John Sung, Obor Allah di Asia……
Ia lahir dengan nama Sung Siong Geh pada tahun 1901 di sebuah desa miskin di propinsi Fukien di Tiongkok Tenggara. Ayahnya pendeta Gereja Metodis. Ibunya buruh tani. Mereka sekeluarga bertubuh lemah dan sering sakit.
Pada usia 18 tahun Sung berlayar ke Amerika karena mendapat beasiswa . Ia belajar kimia di Wesleyan University di Ohio. Untuk ongkos hidup ia bekerja sebagai pembersih sampah dan pembersih mesin pabrik. Ia lulus sebagai mahasiswa nomor satu.
Sementara itu, studi Sung berjalan terus. Ia diterima di Ohio State University. Program Master of Science ditempuhnya hanya dalam sembilan bulan. Sesudah itu Sung mengambil program doktor. Ia lulus dengan gemilang dan menjadi doktor ilmu kimia hanya dalam tiga semester. Semua surat kabar Amerika dan Eropa mencatat rekor jenius ini. Banyak perusahaan raksasa menawarkan lowongan kepada Sung.
Sung menolak semua tawaran itu. Lalu ia masuk sekolah teologi Union Theological Seminary. Dr. Henry Sloane Coffin seorang yang sangat liberal baru saja menduduki jabatan sebagai rektor seminari itu.
Dr. Sung menenggelamkan diri dalam studi teologi liberalnya dengan segala kemampuan inteleknya. Pada tahun itu ia memperoleh nilai-nilai tertinggi, namun berpaling dari Kekristenan sama seperti ketika dulu ia mempelajari Budhisme dan Taoisme. Ia mulai menyanyikan kitab-kitab suci Budha dalam meditasi di kamarnya, dan berharap melalui penyangkalan diri akan membawanya memperoleh damai sejahtera. Ia menulis, ”Jiwaku mengembara di padang gurun.”
Akhirnya, pada tanggal 10 Pebruari 1927 ia mengalami pertobatan sejati. Ia berlari sambil bersorak dan memuji Tuhan sambil berkeliling asrama itu. Ia mulai berbicara kepada setiap orang tentang kebutuhan mereka akan Kristus, termasuk kepada teman-teman sekelasnya dan para pengajar di Seminari itu. Rektor Seminari itu berpikir bahwa ia telah kehilangan kesadarannya karena usaha belajarnya yang terlalu dipaksakan, dan mengalami psikopat dan mereka memasukkannya ke rumah sakit jiwa.
Selama 193 hari di rumah sakit itu ia menelaah 1.189 pasal Alkitab dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22 sebanyak 40 kali dengan 40 sudut eksegese yang berbeda. Ia keluar rumah sakit sambil membawa 40 naskah eksegese dalam bahasa Inggris dan mandarin.
Selepas dari rumah sakit jiwa (1927), ia kembali ke Cina. Pada perjalanannya kembali ia tahu bahwa ia dapat dengan mudah memperoleh kedudukan sebagai professor kimia di beberapa Universitas di China. Ketika kapal yang ditumpanginya sudah mendekat ke tujuan perjalanannya, John Sung turun ke kabinnya, mengambil ijazah-ijazah dan medali-medali serta tanda keanggotaannya dalam organisasi-organisasi saintifik terkenal dan membuang semua itu ke laut. Semua ijazahnya tak tercuali ijazah doktornya, yang telah ia perjuangkan demi menyenangkan ayahnya.
Mulai lah dia bekerja bagi pekerjaan Tuhan. Pertobatan-pertobatan terjadi, kesaksian-kesaksian terus mengalir. Tanah Cina kembali menjadi suatu ladang yang siap dituainya. Lahan-lahan yang dipersiapkan misionari-misionari sebelumnya memperlihatkan hasil.
Pada tahun 1939, ia beberapa kali datang ke Indonesia. Orang datang berduyun-duyun sampai gedung gereja melimpah ruah. Itulah Dr. John Sung dari Tiongkok yang membuat ratusan ribu orang Indonesia pada tahun 1935-1939 menerima Injil Kristus. Kesehatan hamba Tuhan yang setia ini makin lama makin buruk. Waktu di Surabaya ia berkotbah sambil berlutut untuk meringankan sakitnya.
Pada pukul 7.07 pada tanggal 18 Agustus, John Sung menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dipanggil Tuhan pada usia 42 tahun. Orang-orang Kristen di China dan Taiwan, bahkan Indonesia hari ini berhutang banyak kepada pelayanan Sung; ia adalah salah satu karunia terbesar Tuhan bagi Asia. Inilah John Sung, Obor Allah di Asia.
“Masih banyak orang yang lebih baik dari aku!
Untuk pembelajaran Alkitab, aku tidak sebanding dengan Watchman Nee! Sebagai pengkotbah, aku tidak sebanding dengan Wang Ming-tao! Sebagai penulis, aku tidak dapat dibandingkan dengan Marcus Cheng! Sebagai musisi, aku jauh di bawah Timothy Chao. Aku tidak memiliki kesabatan seperti Alfred Chow! Sebagai figure public, aku tidak memiliki sopan santun seperti Andrew Gih.
Hanya ada satu hal di mana aku melebihi mereka: yaitu dalam melayani Tuhan dalam setiap kekuatanku”
(John Sung)
