Pdt. Yardin Djoi, Air Mata bagi Suku Wana……
Pdt. Yardin Djoi adalah bungsu dari 7 bersaudara yang lahir 36 tahun yang lalu dari keluarga seorang pendeta yang sederhana di dusun Sulewana, Kec. Tentena, Kab. Poso, Sulawesi Tengah. Beliau pernah sebanyak empat kali melamar untuk menjadi guru agama Kristen di berbagai sekolah negeri, setelah menyelesaikan Sekolah Pendidikan Guru Agama (1988), karena satu dan lain hal, semua lamarannya tidak pernah mendapat tanggapan yang jelas dan positif. Selama empat tahun ia pernah bekerja sebagai buruh lepas demi mengumpulkan uang untuk melanjutkan ke Sekolah Teologi seperti yang dicita-citakannya.

Di semester tiga, dia menderita suatu penyakit yang parah. Selama enam minggu ia harus terbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa dengan tanpa dana untuk berobat.Satu anugerah khusus berupa lawatan dan jamahan langsung dari Sang Tabib Agung, Tuhan Yesus Kristus menjadi pengalaman tak terlupakan baginya. Dalam suatu penglihatan; Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya menjamah kepalanya, dan tubuh lemahnya yang tak berdaya berangsur- angsur menguat, sambil berkata kepada ketiga malaikat dalam rupa manusia yang menyertai-Nya: “Kalian tidak perlu sedih atau menangis, sebab orang ini akan dipakai menjadi alat bagi-Ku”. Tiga hari kemudian, anak muda ini sembuh total! Betapa ajaibnya Tuhan! Hal ini pula yang mengkristalkan hatinya: “Aku akan tetap setia melayani Dia dalam mengabarkan Injil keselamatan Kristus Yesus.”
Pada 1998, ia di kirim ke suku Wana, dusun Mokoto, Sulawesi Tengah. Untuk mencapai daerah ini, 2-3 jam dilalui melalui penerbangan perintis dari Palu, Makasar atau Manado menuju kota kabupaten Luwu. Kemudian, diteruskan dengan 6-7 jam perjalanan bus menuju kecamatan Baturube, lalu 1 jam perjalanan dengan mobil ke Desa Opo, setelah itu 2-3 jam perjalanan kaki melintasi hutan, sungai ke dusun Mokoto tempat jemaat berada.
Berbagai kesukaran, tantangan pelayanan dihadapinya dengan bersandar kuat kepada Kristus. Konfrontasi dengan kuasa kegelapan melalui dukun, orang yang kerasukan roh jahat dan berbagai hal lainnya dihadapi dengan iman yang teguh. Bagian sukacitanya adalah menyaksikan bagaimana kuasa Allah dinyatakan atas jiwa-jiwa terhilang, jamahan-Nya terhadap orang sakit, dan hati yang terbuka untuk Injil. Menyaksikan anak kecil yang mati karena orangtuanya hanya percaya kepada dukun atau tidak menemukan obat, menjadi jeritan hatinya. Kuasa Tuhan bekerja ketika pada akhirnya salah satu dukun andalan kampung ini harus mengakui kuasa Kristus jauh lebih tinggi darinya. Ia datang kepada Kristus setelah disembuhkan Allah melalui doa dan obat yang diberikan oleh pelayan-Nya ini, puji Tuhan!
Satu pergumulan yang sangat menyayat hati Pdt. Yardin adalah mendapati warga jemaatnya yang lugu dimana dia menukarkan satu hektar ladang demi sekarung beras; atau menukarkan satu hektar kebun cokelat dengan sebuah senapan angin bekas dari para pendatang baru. Pembodohan yang terjadi ini harus dikikis habis untuk kemudian warga diberdayakan dan diberikan pendidikan.
Awal tahun 2005 ini, Pdt. Yardin dikagetkan dengan diterimanya sepucuk surat keputusan (SK) yang memutuskan untuk memindahkannya ke tempat pelayanan yang baru di kantor pusat sinode GKST Tentena. Kepindahan ini juga merupakan perhatian dari rekan-rekannya untuk memberikan sedikit “kenyamanan dan istirahat” dari pelayanan yang cukup terjal dan penuh air mata yang dialaminya selama ini.
Tetapi kecintaannya kepada jiwa-jiwa yang belum diselamatkan dan keterpanggilan akan suku terabaikan, memperkuat hatinya untuk memutuskan “lebih baik mentaati panggilan Tuhan” (Kisah Para Rasul 4:19). Apalagi Tuhan membukakan mata hati Pdt. Yardin melalui panggilan pelayanan dari tetua suku Wana yang lain yang hidup masyarakatnya masih Nomaden (hidup berladang dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain – Red.). Daerah itu bernama Woonsa yang bisa ditempuh dua hari perjalanan kaki jauhnya dari tempat pelayanan semula. Ada sekitar 70 kepala keluarga yang rindu dilayani, dijamah dan menjadi murid Tuhan. Seolah gapaian tangan seorang Makedonia dalam penglihatan Paulus (Lihat Kisah Para Rasul 16:9).
Kepada setiap kita sebagai umat tebusan-Nya, Ia pun tetap berkata: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20) Adakah hati kita — hati saya dan hati Saudara — peka dan taat untuk menuruti perintah-Nya? Tidak ada doa dan perhatian yang sia-sia, tidak ada jiwa yang terlampau berharga atau terlampau hina untuk melayani-Nya menjadi hamba-Nya, bahkan tidak ada usaha, dana yang sia-sia kalau kita mempersembahkannya untuk pekerjaan Injil Tuhan.
