Yasuo Atsumi, Nilai Luhur bagi Dayak
Umat kristiani di Jepang jumlahnya masih sedikit, yakni cuma satu persen. Masih kuatnya kepercayaan masyarakat Jepang terhadap agama tradisio-nal, menjadi pergumulan besar keluarga Atsumi. Dia sendiri mengaku berlatarbelakang Buddha dan Shinto. Perkenalannya dengan Kristus dimulai pada saat berusia 12 tahun. Dia diundang rekan ikut Bible Camp di Gunung Natsu, sebelah utara Tokyo. “Di situlah saya ambil keputusan menerima Yesus,” kenangnya. Orang tua dan saudara yang semula mengejek, akhirnya ikut menikmati anugerah keselamatan kekal itu. Atsumi berjanji akan melayani Yesus sampai nafasnya berhenti.
Penginjil asal Jepang ini membukukan cerita manis bagi masyarakat pedalaman di Kalimantan Barat lantaran kehadirannya tidak melulu menebar Injil, tapi sederet ilmu ditaburkan guna kesejahteraan masyarakat setempat. Nilai luhur itu ditorehkan Atsumi kira-kira dua puluh delapan tahun silam. Niat tulus untuk menyebarkan Injil bagi suku Dayak di pedalaman Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), seolah mendorongnya untuk meninggalkan negerinya, Jepang, tahun 1972 lalu.
“Saya merasa diberi beban oleh Tuhan untuk melayani mereka (suku Dayak) karena banyak mereka yang menganut Kristen tetapi jumlah hamba Tuhan di sana sangat sedikit,” tutur Atsumi. Di tahun 1972 itu, Atsumi mendapat rekomendasi dari salah satu badan misi penginjilan di Jepang untuk berangkat ke Indonesia sebagai duta Kristus. Dia membawa istri serta dua anaknya yang masih kecil. Dari Jakarta, mereka menuju Batu, Jawa Timur. Ia dan keluarga tinggal selama dua tahun untuk mendalami bahasa Indonesia sambil belajar teologi. Di sana dia bergabung dengan sebuah yayasan pekabaran Injil. Di situ pula anak ketiga mereka lahir.
Setelah merasa segala sesuatunya sudah siap, Atsumi dan keluarga meninggalkan Batu menuju Pontianak, ibu kota Kalbar. Mereka naik perahu menyusuri Sungai Kapuas menuju Kabupaten Sintang. Untuk sampai di tujuan, mereka harus menempuh jarak 600 kilometer. Setengah hari di perjalanan membuat keluarga itu lelah luar biasa, terlebih sang istri bernama Michiko Atsumi itu harus menggendong bayi mereka. Sulitnya perjalanan tidak menyurutkan niat Atsumi. Dia bertekad menolong masyarakat pedalaman supaya bisa mendengarkan Injil secara rutin. “Batin saya bergejolak mendengar informasi tentang ratusan ribu orang Kristen di Kalimantan yang hanya satu kali mendengar khotbah pendeta dalam setahun lantaran minimnya jumlah hamba Tuhan yang melayani di sana,” ujar pria yang lahir di Tokyo, Jepang, 4 September 1942 ini.
Di Sintang, Atsumi secara rutin menelusuri pedalaman di tengah hutan dan menyapa penduduk, bahkan yang tinggal di daerah paling terpencil sekalipun. Selain dipandang terbelakang dari sisi sosial dan ekonomi, umumnya masyarakat pedalaman masih menganut animisme. Sebagai hamba Tuhan, Atsumi giat menyampaikan Kabar Baik tanpa takut serangan ilmu gaib penduduk atau terkaman binatang buas. Kehadirannya sempat mem-buat heran penduduk, lantaran dia berasal dari negara Sakura. Sebab selama ini misionaris biasanya berasal dari Eropa.
Warga kagum setiap melihat Atsumi yang dilingkupi kuasa ilahi itu menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat. Banyak dukun bertobat. Atsumi telah memuaskan “dahaga” mereka yang sejak lama haus akan firman Tuhan. Bukan hanya menebar Injil, Atsumi juga mengajari penduduk cara bercocok tanam dan berkebun. Sementara sang istri memberikan penyuluhan kesehatan. Kelancaran pelayanannya itu juga didukung pemahamannya atas pelosok yang dijelajahinya. Sebelum memulai pelayanan di suatu tempat, dia lebih dahulu mendokumentasikan setiap wilayah dengan baik, terutama menyangkut karakteristik masyarakat setempat. Maka tak heran jika program programnya disambut baik.
Tanpa kenal lelah dia terus melangkah sampai ke pedalaman yang sulit dijangkau manusia. Kadang dia membawa istri dan anak menyusuri jalan setapak yang jauhnya berkilometer. Tugasnya sebagai misionaris dilakoni tanpa keluh kesah. Bahkan, mereka sering menginap beberapa hari di rumah-rumah panggung warga yang sangat sederhana. Binatang-binatang berbisa sering nyaris membahayakan anak-anaknya. Berbagai macam penyakit seperti malaria pernah mengenai anak-anaknya, namun biasanya cepat sembuh.
Peristiwa tragis yang sulit dilupakan Atsumi adalah saat dirinya nyaris kehilangan Michiko dan seorang anak mereka yang baru berusia tiga tahun saat kapal yang mereka tumpangi terbakar di tengah Sungai Kapuas. Atsumi tidak ikut karena berada di Sintang. Peristiwa kebakaran itu terjadi tengah malam. Untuk menyelamatkan diri, para penumpang melompat ke sungai. Di tengah kepanikan itu sang anak terlepas dari ibunya. Untunglah seorang pelajar SMP yang ikut rombongan mahasiswa berhasil mendekap sang anak, sementara Michiko tenggelam menuju dasar sungai. Saat nyawanya di ujung tanduk, energinya seolah terpompa hebat tatkala mendengar teriakan dan tangisan anaknya memanggil-manggil nama Yesus, dan “Mama…” Di tengah perjuangan melawan maut, sang istri juga mendapat penglihatan di mana Atsumi bersama jemaat secara khusuk berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya. Michiko dan anaknya selamat. Orang-orang sangat heran karena anak sekecil itu bisa panggil nama Tuhan Yesus. Tentang hal ini, Atsumi berkata kalau itu adalah suara malaikat. “Kini anak itu telah menjadi pendeta di Tokyo,” kata Atsumi dengan wajah berseri-seri.
Sayang, kiprah Atsumi di Kalimantan harus berakhir tahun 1989 karena masa berlaku paspornya habis. Segala upayanya untuk mengurus perpanjangan paspor itu dimen-tahkan. “Saya diusir pemerintah Indonesia secara halus,” katanya tertawa. Sekembali di negaranya, Atsumi merintis persekutuan bagi warga Indonesia di Nishi Tokyo-city, Tokyo. Dalam tempo singkat, persekutuan yang diberi nama Jemaat Antiokhia itu berkembang pesat, dan ada di beberapa lokasi di Tokyo. Atsumi menjabat sekretaris jenderal di Misi Antiokhia Jepang atau General Secretary of Japan Antioch Mission. Tiga puluh tahun kemudian sejak angkat kaki dari Indonesia, penyuka soto ayam ini mendengar kabar bahwa terjadi kebangunan rohani di Kalbar.
