<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Kisah Misi</title>
	<atom:link href="http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritapengharapan.com</link>
	<description>untuk meneruskan Berita Pengharapan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 May 2010 08:44:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>David Brainerd, Misionaris Perintis&#8230;.</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=135</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=135#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 10:30:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wilayah Amerika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapengharapan.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[
“Ini saya, Tuhan, utuslah saya, utuslah saya sampai ke ujung bumi; utuslah saya kepada bangsa kafir yang liar dan ganas di padang belantara; utuslah saya menjauhi segala sesuatu yang dinamakan kenyamanan di bumi, atau kenyamanan duniawi; utuslah saya bahkan kepada maut sekalipun, bila itu dalam pelayanan bagi-Mu dan untuk memperluas kerajaan-Mu,” tulis seorang pemuda dalam buku hariannya. Kelak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.uncommonchristian.com/images/jbt.jpg" alt="" width="122" height="150" /></p>
<p style="text-align: justify;">“Ini saya, Tuhan, utuslah saya, utuslah saya sampai ke ujung bumi; utuslah saya kepada bangsa kafir yang liar dan ganas di padang belantara; utuslah saya menjauhi segala sesuatu yang dinamakan kenyamanan di bumi, atau kenyamanan duniawi; utuslah saya bahkan kepada maut sekalipun, bila itu dalam pelayanan bagi-Mu dan untuk memperluas kerajaan-Mu,” tulis seorang pemuda dalam buku hariannya. Kelak di kemudian hari, buku hariannya tersebut — “The Memoirs of the Rev. David Brainerd” — menginspirasi ratusan orang termasuk William Carey, Henry Martyn, Robert M`Cheyne, dan lain-lain untuk menjadi misionaris ke berbagai belahan dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">David Brainerd (1718 — 1747) adalah perintis misionaris modern. Ia tidak sedang mengarang cerita fiksi petualangan sewaktu menulis dalam buku hariannya. Ia melakukan dan mengalami sendiri apa yang ditulisnya itu — mengabarkan Injil dengan penuh semangat kepada suku-suku Indian Amerika yang adalah penyembah berhala, penentang kekristenan, dan pembenci nama Kristus; berjalan bermil-mil melewati ngarai, hutan rimba, dan padang belantara ketika kuda kesayangannya sakit dan mati; diterpa hujan badai, hawa dingin, ancaman binatang buas, kelaparan, kehabisan persediaan air minum, kesepian, penyakit paru-paru turunan; hidup miskin, tanpa rumah, tanpa keluarga; hidup dalam kesendirian dan penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">David lebih memilih hidup saleh, banyak membaca Alkitab dan buku-buku rohani, berdoa, berpuasa, merenung, dan menulis buku harian. Kerinduan dan panggilan hidupnya adalah memberitakan Kristus kepada suku-suku Indian Amerika yang sedang berjalan menuju jurang kegelapan. Suatu kali, di Sheffield, Massachusetts, ia bertemu dengan seorang utusan dari East Hampton di Long Island, yang telah ditugaskan oleh seluruh penduduk kota dengan suara bulat untuk mengundang dan mendesak Brainerd untuk bekerja di antara mereka sebagai pendeta. Menurut Edwards (Jonathan Edwards, teolog terbesar Amerika yang menjadi bapa rohani dan sahabat dekat Brainerd), undangan ini datang dari salah satu jemaat yang terbesar dan terkaya, di sebuah pulau yang terkenal karena keindahan dan kemakmurannya . Namun, Brainerd menolak undangan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://www.missionaryetexts.org/images/brainerd-lg.jpg" alt="" width="384" height="599" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Dalam buku hariannya, ia menulis demikian: “Atas pilihan saya sendiri, saya terpaksa mengatakan, `Selamat berpisah, teman-teman dan kenyamanan duniawi, juga yang paling saya kasihi, bila Tuhan memintanya: selamat tinggal, selamat tinggal; saya rela menghabiskan hidup saya sampai saat terakhir, dalam gua-gua dan celah-celah gunung di bumi, bila dengan demikian kerajaan Kristus dapat diperluas`” .</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun masa hidup (29 tahun) dan kariernya (hanya 4 tahun) singkat, David Brainerd termasuk salah satu tokoh misionaris terbesar Amerika. Melalui penginjilannya, ratusan orang Indian bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">” TO BE SAVED IS TO BE SEND! “</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=135</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nate Saint, Mekanik Pesawat Untuk Tuhan</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=130</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=130#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 05:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Visi Mekanik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapengharapan.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Kakaknya yang tertua menjadi seorang pilot penerbangan komersial dan Nate memimpikan masa depan yang sama seperti kakaknya. Untuk meraih cita-citanya, Nate mendaftarkan diri dalam Army Air Corps. Namun belum sempat memulai pelatihan khusus dalam Air Cadet Training Program, bekas luka di kakinya meradang. Luka ini diderita akibat serangan penyakit osteomyelitis pada masa remajanya.
Hal ini jelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kakaknya yang tertua menjadi seorang pilot penerbangan komersial dan Nate memimpikan masa depan yang sama seperti kakaknya. Untuk meraih cita-citanya, Nate mendaftarkan diri dalam Army Air Corps. Namun belum sempat memulai pelatihan khusus dalam Air Cadet Training Program, bekas luka di kakinya meradang. Luka ini diderita akibat serangan penyakit osteomyelitis pada masa remajanya.</p>
<p>Hal ini jelas mengubah jalan hidupnya. &#8220;Kemarin aku baru merayakan ulang tahun yang ke-20, penyakit ini menjadi hadiah ulang tahun yang menyedihkan. Seharusnya hari ini aku dalam perjalanan menuju bandara untuk mengikuti hari penerbangan pertama, tetapi aku malah menuju markas untuk melakukan X-Ray.&#8221; Karena dinyatakan kurang sehat dengan luka di kakinya itu, Nate tidak bisa mengikuti pelatihan penerbangan. Meskipun tetap bergabung dalam Air Corps selama 2,5 tahun, dia mulai memikirkan secara serius tentang memfokuskan dirinya dan hidupnya dalam pelayanan Kristen.</p>
<div style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://www.generalaviationnews.com/wp-content/uploads/2009/10/NateSaint-400x330.jpg" alt="" width="400" height="330" /></a></div>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Segera setelah membaca artikel yang ditulis oleh Jim Truxton tentang formasi yang diperlukan suatu organisasi misi, Nate menghubungi organisasi tersebut tentang kemungkinan untuk melibatkan diri dalam pelayanan suatu organisasi misi. Jim segera meresponnya. Setahun kemudian, setelah menyelesaikan dinas militernya, Nate menjawab panggilan mereka yang mengutusnya ke Meksiko untuk merekonstruksi satu-satunya pesawat yang dimiliki oleh pelayanan misi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Saat menuju Meksiko, Nate sangat bersemangat dengan pelayanan misi ini, tetapi sesampainya di Meksiko dan melihat sayap pesawat yang tersisa dan puing-puingnya, Nate nyaris patah semangat. Meskipun susah, Nate terus bekerja keras untuk memperbaiki pesawat tersebut. Setelah 6 bulan berjuang sembari melawan rasa frustasi yang menyerangnya, Nate akhirnya berhasil membuat pesawat itu kembali mengudara. Melihat kerusakan yang dialami pesawat tersebut dan kondisi-kondisi yang memaksa Nate untuk memperbaikinya, maka perbaikan itu tidak bisa dikatakan sederhana. Penulis biografi Nate mengatakan bahwa apa yang dilakukan Nate di Meksiko menunjukkan kemampuan uniknya dalam melakukan perbaikan-perbaikan pada sebuah pesawat yang pasti juga cukup sulit dilakukan meskipun dalam hangar berperalatan lengkap.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Organisasi misi tersebut mulai serius memperhatikan penerbangan hutan (jungle aviation) yang membutuhkan pilot- pilot pemberani yang berkomitmen untuk melayani Allah sekaligus juga berpengalaman dalam petualangan. Penerbangan hutan menjadi bagian pelayanan yang sangat membutuhkan keahlian khusus. Oleh karena itu, baik pesawat maupun teknik penerbangan perlu dikembangkan untuk mengakomodasi berbagai situasi dan kondisi. Nate mulai menciptakan inovasi-inovasi baru, antara lain sistem bahan bakar alternatif dan pengiriman paket lewat udara (paket-paket diangkut dengan pesawat dan dijatuhkan di tempat-tempat yang telah ditentukan).</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Teknik pengiriman paket ini menjadi terkenal setelah terjadi kegagalan fatal dalam menjangkau Suku Aucas. Sistem ini memungkinkan untuk mengirimkan maupun mengangkut barang-barang yang dibutuhkan oleh suku-suku Indian yang sangat susah dijangkau.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://tomisthecat.files.wordpress.com/2009/10/nate-saint-2.jpg" alt="" width="356" height="284" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun pada awalnya sempat menganggap rendah ide untuk &#8220;menjadi montir pesawat bagi Allah&#8221;, Nate ternyata sangat menyukai pekerjaannya sebagai pilot misionaris. Setiap hari semakin dia melihat pentingnya pelayanan unik yang dilakukannya untuk &#8220;menghemat waktu&#8221; bagi para misionaris yang melakukan pelayanan di darat khususnya yang melayani wilayah-wilayah yang sulit dijangkau melalui jalan darat. Juga bagaimana dia bisa mengangkut barang-barang persediaan yang diperlukan dalam pelayanan dengan melintasi hutan.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Terjadi kombinasi dorongan hati dan kerinduan yang mendalam dalam hati Nate untuk lebih mempercepat pelayanan penginjilan bagi jiwa- jiwa yang terhilang. Kerinduan itu tiba-tiba telah merenggut nyawa Nate, seorang pilot muda yang berdedikasi dan berotak cemerlang, pada bulan Januari 1956, ketika dia dan kawannya dibunuh oleh Suku Aucas. Hal itu bermula dengan pengiriman paket yang dilakukannya bagi Suku Aucas yang dipikirnya sebagai suku yang ramah.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Dengan keahliannya sebagai pilot, Nate dan temannya berhasil mendarat di wilayah Suku Aucas. Namun keahlian dan teknik tersebut tidaklah cukup bagi Suku Aucas sehingga pelayanan penerbangan itu kehilangan salah satu dari pilot-penemu-montir terbaiknya. Kontribusi Nate Saint bagi pelayanan penerbangan tidaklah berakhir dengan kematiannya. Kesaksiannya terus hidup dan banyak orang yang berkomitmen untuk menyerahkan hidup mereka kepada Allah dengan menjadi pilot-pilot misionaris setelah membaca artikel tentang kesaksiannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=130</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pdt. Yardin Djoi, Air Mata bagi Suku Wana&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=119</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=119#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 11:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sulawesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapengharapan.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Pdt. Yardin Djoi adalah bungsu dari 7 bersaudara yang lahir 36 tahun yang lalu dari keluarga seorang pendeta yang sederhana di dusun Sulewana, Kec. Tentena, Kab. Poso, Sulawesi Tengah. Beliau pernah sebanyak empat kali melamar untuk menjadi guru agama Kristen di berbagai sekolah negeri, setelah menyelesaikan Sekolah Pendidikan Guru Agama (1988), karena satu dan lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pdt. Yardin Djoi adalah bungsu dari 7 bersaudara yang lahir 36 tahun yang lalu dari keluarga seorang pendeta yang sederhana di dusun Sulewana, Kec. Tentena, Kab. Poso, Sulawesi Tengah. Beliau pernah sebanyak empat kali melamar untuk menjadi guru agama Kristen di berbagai sekolah negeri, setelah menyelesaikan Sekolah Pendidikan Guru Agama (1988), karena satu dan lain hal, semua lamarannya tidak pernah mendapat tanggapan yang jelas dan positif. Selama empat tahun ia pernah bekerja sebagai buruh lepas demi mengumpulkan uang untuk melanjutkan ke Sekolah Teologi seperti yang dicita-citakannya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://foto.detik.com/images/content/2008/07/08/501/wana4.jpg" alt="" width="360" height="247" /></p>
<p>Di semester tiga, dia menderita suatu penyakit yang parah. Selama enam minggu ia harus terbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa dengan tanpa dana untuk berobat.Satu anugerah khusus berupa lawatan dan jamahan langsung dari Sang Tabib Agung, Tuhan Yesus Kristus menjadi pengalaman tak terlupakan baginya. Dalam suatu penglihatan; Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya menjamah kepalanya, dan tubuh lemahnya yang tak berdaya berangsur- angsur menguat, sambil berkata kepada ketiga malaikat dalam rupa manusia yang menyertai-Nya: &#8220;Kalian tidak perlu sedih atau menangis, sebab orang ini akan dipakai menjadi alat bagi-Ku&#8221;. Tiga hari kemudian, anak muda ini sembuh total! Betapa ajaibnya Tuhan! Hal ini pula yang mengkristalkan hatinya: &#8220;Aku akan tetap setia melayani Dia dalam mengabarkan Injil keselamatan Kristus Yesus.&#8221;</p>
<p>Pada 1998, ia di kirim ke suku Wana, dusun Mokoto, Sulawesi Tengah. Untuk mencapai daerah ini, 2-3 jam dilalui melalui penerbangan perintis dari Palu, Makasar atau Manado menuju kota kabupaten Luwu. Kemudian, diteruskan dengan 6-7 jam perjalanan bus menuju kecamatan Baturube, lalu 1 jam perjalanan dengan mobil ke Desa Opo, setelah itu 2-3 jam perjalanan kaki melintasi hutan, sungai ke dusun Mokoto tempat jemaat berada.</p>
<p>Berbagai kesukaran, tantangan pelayanan dihadapinya dengan bersandar kuat kepada Kristus. Konfrontasi dengan kuasa kegelapan melalui dukun, orang yang kerasukan roh jahat dan berbagai hal lainnya dihadapi dengan iman yang teguh. Bagian sukacitanya adalah menyaksikan bagaimana kuasa Allah dinyatakan atas jiwa-jiwa terhilang, jamahan-Nya terhadap orang sakit, dan hati yang terbuka untuk Injil. Menyaksikan anak kecil yang mati karena orangtuanya hanya percaya kepada dukun atau tidak menemukan obat, menjadi jeritan hatinya. Kuasa Tuhan bekerja ketika pada akhirnya salah satu dukun andalan kampung ini harus mengakui kuasa Kristus jauh lebih tinggi darinya. Ia datang kepada Kristus setelah disembuhkan Allah melalui doa dan obat yang diberikan oleh pelayan-Nya ini, puji Tuhan!</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://indotimnet.files.wordpress.com/2009/10/capture4.jpg" alt="" width="382" height="254" /></a></p>
<p>Satu pergumulan yang sangat menyayat hati Pdt. Yardin adalah mendapati warga jemaatnya yang lugu dimana dia menukarkan satu hektar ladang demi sekarung beras; atau menukarkan satu hektar kebun cokelat dengan sebuah senapan angin bekas dari para pendatang baru. Pembodohan yang terjadi ini harus dikikis habis untuk kemudian warga diberdayakan dan diberikan pendidikan.</p>
<p>Awal tahun 2005 ini, Pdt. Yardin dikagetkan dengan diterimanya sepucuk surat keputusan (SK) yang memutuskan untuk memindahkannya ke tempat pelayanan yang baru di kantor pusat sinode GKST Tentena. Kepindahan ini juga merupakan perhatian dari rekan-rekannya untuk memberikan sedikit &#8220;kenyamanan dan istirahat&#8221; dari pelayanan yang cukup terjal dan penuh air mata yang dialaminya selama ini.</p>
<p>Tetapi kecintaannya kepada jiwa-jiwa yang belum diselamatkan dan keterpanggilan akan suku terabaikan, memperkuat hatinya untuk memutuskan &#8220;lebih baik mentaati panggilan Tuhan&#8221; (Kisah Para Rasul 4:19). Apalagi Tuhan membukakan mata hati Pdt. Yardin melalui panggilan pelayanan dari tetua suku Wana yang lain yang hidup masyarakatnya masih Nomaden (hidup berladang dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain &#8211; Red.). Daerah itu bernama Woonsa yang bisa ditempuh dua hari perjalanan kaki jauhnya dari tempat pelayanan semula. Ada sekitar 70 kepala keluarga yang rindu dilayani, dijamah dan menjadi murid Tuhan. Seolah gapaian tangan seorang Makedonia dalam penglihatan Paulus (Lihat Kisah Para Rasul 16:9).</p>
<p>Kepada setiap kita sebagai umat tebusan-Nya, Ia pun tetap berkata: &#8220;Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.&#8221; (Matius 28:19-20) Adakah hati kita &#8212; hati saya dan hati Saudara &#8212; peka dan taat untuk menuruti perintah-Nya? Tidak ada doa dan perhatian yang sia-sia, tidak ada jiwa yang terlampau berharga atau terlampau hina untuk melayani-Nya menjadi hamba-Nya, bahkan tidak ada usaha, dana yang sia-sia kalau kita mempersembahkannya untuk pekerjaan Injil Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=119</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yasuo Atsumi, Nilai Luhur bagi Dayak</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=115</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=115#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 06:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapengharapan.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Umat kristiani di Jepang jumlahnya masih sedikit, yakni cuma satu persen. Masih kuatnya kepercayaan masyarakat Jepang terhadap agama tradisio-nal, menjadi pergumulan besar keluarga Atsumi. Dia sendiri mengaku berlatarbelakang Buddha dan Shinto. Perkenalannya dengan Kristus dimulai pada saat berusia 12 tahun. Dia diundang rekan ikut Bible Camp di Gunung Natsu, sebelah utara Tokyo. “Di situlah saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="alignright" src="http://www.reformata.com/includes/image.php?m=news&amp;id=1292&amp;w=298" alt="" width="209" height="163" /></a>Umat kristiani di Jepang jumlahnya masih sedikit, yakni cuma satu persen. Masih kuatnya kepercayaan masyarakat Jepang terhadap agama tradisio-nal, menjadi pergumulan besar keluarga Atsumi. Dia sendiri mengaku berlatarbelakang Buddha dan Shinto. Perkenalannya dengan Kristus dimulai pada saat berusia 12 tahun. Dia diundang rekan ikut Bible Camp di Gunung Natsu, sebelah utara Tokyo. “Di situlah saya ambil keputusan menerima Yesus,” kenangnya. Orang tua dan saudara yang semula mengejek, akhirnya ikut menikmati anugerah keselamatan kekal itu. Atsumi berjanji akan melayani Yesus sampai nafasnya berhenti.</p>
<p style="text-align: left;">Penginjil asal Jepang ini membukukan cerita manis bagi masyarakat pedalaman di Kalimantan Barat lantaran kehadirannya tidak melulu menebar Injil, tapi sederet ilmu ditaburkan guna kesejahteraan masyarakat setempat. Nilai luhur itu ditorehkan Atsumi kira-kira dua puluh delapan tahun silam. Niat tulus untuk menyebarkan Injil bagi suku Dayak di pedalaman Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), seolah mendorongnya untuk meninggalkan negerinya, Jepang, tahun 1972 lalu.</p>
<p style="text-align: left;"> “Saya merasa diberi beban oleh Tuhan untuk melayani mereka (suku Dayak) karena banyak mereka yang menganut Kristen tetapi jumlah hamba Tuhan di sana sangat sedikit,” tutur Atsumi. Di tahun 1972 itu, Atsumi mendapat rekomendasi dari salah satu badan misi penginjilan di Jepang untuk berangkat ke Indonesia sebagai duta Kristus. Dia membawa istri serta dua anaknya yang masih kecil. Dari Jakarta, mereka menuju Batu, Jawa Timur. Ia dan keluarga tinggal selama dua tahun untuk mendalami bahasa Indonesia sambil belajar teologi. Di sana dia bergabung dengan sebuah yayasan pekabaran Injil. Di situ pula anak ketiga mereka lahir. </p>
<p style="text-align: left;">Setelah merasa segala sesuatunya sudah siap, Atsumi dan keluarga meninggalkan Batu menuju Pontianak, ibu kota Kalbar. Mereka naik perahu menyusuri Sungai Kapuas menuju Kabupaten Sintang. Untuk sampai di tujuan, mereka harus menempuh jarak 600 kilometer. Setengah hari di perjalanan membuat keluarga itu lelah luar biasa, terlebih sang istri bernama Michiko Atsumi itu harus menggendong bayi mereka. Sulitnya perjalanan tidak menyurutkan niat Atsumi. Dia bertekad menolong masyarakat pedalaman supaya bisa mendengarkan Injil secara rutin. “Batin saya bergejolak mendengar informasi tentang ratusan ribu orang Kristen di Kalimantan yang hanya satu kali mendengar khotbah pendeta dalam setahun lantaran minimnya jumlah hamba Tuhan yang melayani di sana,” ujar pria yang lahir di Tokyo, Jepang, 4 September 1942 ini. </p>
<p style="text-align: left;">Di Sintang, Atsumi secara rutin menelusuri pedalaman di tengah hutan dan menyapa penduduk, bahkan yang tinggal di daerah paling terpencil sekalipun. Selain dipandang terbelakang dari sisi sosial dan ekonomi, umumnya masyarakat pedalaman masih menganut animisme. Sebagai hamba Tuhan, Atsumi giat menyampaikan Kabar Baik tanpa takut serangan ilmu gaib penduduk atau terkaman binatang buas. Kehadirannya  sempat mem-buat heran penduduk, lantaran dia berasal dari negara Sakura. Sebab selama ini misionaris biasanya berasal dari Eropa.</p>
<p style="text-align: left;">Warga kagum setiap melihat Atsumi yang dilingkupi kuasa ilahi itu menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat. Banyak dukun bertobat. Atsumi telah memuaskan “dahaga” mereka yang sejak lama haus akan firman Tuhan. Bukan hanya menebar Injil, Atsumi juga mengajari penduduk cara bercocok tanam dan berkebun. Sementara sang istri memberikan penyuluhan kesehatan. Kelancaran pelayanannya itu juga didukung pemahamannya atas pelosok yang dijelajahinya. Sebelum memulai pelayanan di suatu tempat, dia lebih dahulu mendokumentasikan setiap wilayah dengan baik, terutama menyangkut karakteristik masyarakat setempat. Maka tak heran jika program  programnya disambut baik.</p>
<p style="text-align: left;">Tanpa kenal lelah dia terus melangkah sampai ke pedalaman yang sulit dijangkau manusia. Kadang dia membawa istri dan anak menyusuri jalan setapak yang jauhnya berkilometer. Tugasnya sebagai misionaris dilakoni tanpa keluh kesah. Bahkan, mereka sering menginap beberapa hari di rumah-rumah panggung warga yang sangat sederhana. Binatang-binatang berbisa sering nyaris membahayakan anak-anaknya. Berbagai macam penyakit seperti malaria pernah mengenai anak-anaknya, namun biasanya cepat sembuh. </p>
<p style="text-align: left;">
<a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://www.sintang.go.id/images/SintangAllNew.jpg" alt="" width="407" height="300" /></a></p>
<p> </p>
<p>Peristiwa tragis yang sulit dilupakan Atsumi adalah saat dirinya nyaris kehilangan Michiko dan seorang anak mereka yang baru berusia tiga tahun saat kapal yang mereka tumpangi terbakar di tengah Sungai Kapuas. Atsumi tidak ikut karena berada di Sintang. Peristiwa kebakaran itu terjadi tengah malam. Untuk menyelamatkan diri, para penumpang melompat ke sungai. Di tengah kepanikan itu sang anak terlepas dari ibunya. Untunglah seorang pelajar SMP yang ikut rombongan mahasiswa berhasil mendekap sang anak, sementara Michiko tenggelam menuju dasar sungai. Saat nyawanya di ujung tanduk, energinya seolah terpompa hebat tatkala mendengar teriakan dan tangisan anaknya memanggil-manggil nama Yesus, dan “Mama…”  Di tengah perjuangan melawan maut, sang istri juga mendapat penglihatan di mana Atsumi bersama jemaat secara khusuk berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya. Michiko dan anaknya selamat. Orang-orang sangat heran karena anak sekecil itu bisa panggil nama Tuhan Yesus. Tentang hal ini, Atsumi berkata kalau itu adalah suara malaikat. “Kini anak itu telah menjadi pendeta di Tokyo,” kata Atsumi dengan wajah berseri-seri.</p>
<p style="text-align: left;">Sayang, kiprah Atsumi di Kalimantan harus berakhir tahun 1989 karena masa berlaku paspornya habis. Segala upayanya untuk mengurus perpanjangan paspor itu dimen-tahkan. “Saya diusir pemerintah Indonesia secara halus,” katanya tertawa.  Sekembali di negaranya, Atsumi merintis persekutuan bagi warga Indonesia di Nishi Tokyo-city, Tokyo. Dalam tempo singkat, persekutuan yang diberi nama Jemaat Antiokhia itu berkembang pesat, dan ada di beberapa lokasi di Tokyo. Atsumi menjabat sekretaris jenderal di Misi Antiokhia Jepang atau General Secretary of Japan Antioch Mission. Tiga puluh tahun kemudian sejak angkat kaki dari Indonesia, penyuka soto ayam ini mendengar kabar bahwa terjadi kebangunan rohani di Kalbar.   </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=115</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aris van de Loosdrecht, Martir Tanah Toraja&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=108</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=108#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 06:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sulawesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapengharapan.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[ 
Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht menikah pada 7 Agustus 1913. Kemudian mereka berangkat untuk memberitakan Injil ke Tanah Toraja pada tanggal 5 September 1913, ini berarti mereka pergi ke sebuah tempat yang baru dan sangat terpencil kurang lebih satu bulan setelah pernikahan mereka. Mereka tiba di Indonesia yang waktu itu dikenal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht menikah pada 7 Agustus 1913. Kemudian mereka berangkat untuk memberitakan Injil ke Tanah Toraja pada tanggal 5 September 1913, ini berarti mereka pergi ke sebuah tempat yang baru dan sangat terpencil kurang lebih satu bulan setelah pernikahan mereka. Mereka tiba di Indonesia yang waktu itu dikenal dengan sebutan “Hindia Belanda”. Akan tetapi tujuan mereka bukanlah Indonesia, melainkan Tanah Toraja. Daerah ini merupakan daerah yang masih sangat terpencil, belum lagi ancaman dari penduduk asli yang saat itu masih sering mengadakan perburuan terhadap manusia (kalau kita tidak ingin menyebutnya sebagai kanibalisme). </div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Anton dan Ida (demikian panggilan mereka) tinggal di daerah Poso selama awal tahun 1914, di desa Tentena, sekitar 2000 Km timur laut Rantepao. Sebelum berangkat ke Rantepao, mereka dibantu oleh seorang penerjemah Alkitab N. Adriani, untuk menyesuaikan diri dan mengenal bahasa Toraja. Setelah merasa matang dengan pelatihan dan informasi yang didapatnya, mereka kembali ke Rantepao pada awal April. Jelas bahwa Anton dan Ida sadar benar akan masalah bahasa yang menjadi kendala bagi mereka memberitakan Injil, karena itu mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempelajari bahasa Toraja.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mereka tinggal di Rantepao dan mulai melaksanakan berbagai pelayanan mereka. Karena pelayanan mereka banyak masyarakat Toraja yang tertarik dengan Injil sekalipun pada saat itu ikatan adat dan kepercayaan animisme masih sangat kuat. Anton dapat menjalin hubungan yang begitu akrab dengan para kepala-kepala suku dan juga para parenge’ atau para imam. Salah satu parenge’ yang dikenalnya cukup baik, bahkan dapat dikatakan menjalin persahabatan dengannya adalah Pong Maramba. Dikemudian hari hubungan ini menjadi rusak karena Pong Maramba meminta kepada Anton untuk bersedia menjual istrinya. Tentu saja permintaan ini didasari atas budaya patriakhal yang melihat perempuan sebagai milik laki-laki sehingga dapat diperlakukan semaunya, termasuk dijual. Sekalipun Anton telah menjelaskan bahwa dalam agama Kristen istri bukanlah milik melainkan sebagai rekan sekerja yang sama derajatnya, namun Pong Maramba tetap tidak mengerti penolakan Anton. Namun akhirnya konflik ini selesai ketika Pong Maramba di tangkap dan dipenjarakan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Selama melaksanakan pelayanan di Tana Toraja, mereka memfokuskan pada pembangunan sekolah-sekolah yang dapat menampung anak-anak Toraja untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Anton sangat bekerja keras dalam hal ini, dalam salah satu suratnya ke Belanda, Alida mengatakan bahwa suaminya bekerja dari jam setengah enam pagi sampai jam sebelas malam. Dari surat-suratnya kita dapat menyimpulkan bahwa pasangan misionaris ini sangatlah ramah kepada masyarakat Toraja, hal ini diakibatkan karena mereka sendiri mendapatkan sambutan yang sangat ramah dan baik dari masyarakat Toraja. Selain itu mereka juga banyak memberikan pelayanan medis kepada masyarakat, dalam surat-surat mereka, mereka menjelaskan akan rendahnya kualitas kehidupan dan kesehatan masyarakat Toraja, bahkan para parenge’ mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan kehidupan para budaknya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Perkembangan misi yang dilakukan oleh pasangan misionaris ini sangat luar biasa, dalam beberapa waktu saja mereka telah berhasil mendirikan banyak sekolah, dan para guru-guru didatangkan dari daerah-daerah yang lebih dulu dikuasai oleh Belanda, seperti Ambon, Sangir, dan Manado. Akan tetapi jumlah orang yang dibabtis sampai saat itu belum ada. Hal ini disebabkan karena komitmen mereka akan pengejaran yang benar dan keyakinan yang kokoh dalam Kristus akan dicapai jika mereka dibaptis dengan pemahaman yang benar. Buah iman dari pelayanan mereka adalah dibaptisnya empat orang anak Toraja dari golongan parenge’ yang telah mengikuti katekisasi dalam waktu yang cukup lama. Anton tidak seperti pendeta-pendeta yang diutus dari Makassar di Makale. Ia sangat mementingkan kualitas iman yang lahir dari pemahaman yang benar akan iman Kristen, itulah sebabnya ia menolak membaptis keempat pemuda ini pada awalnya, ia memaksa mereka untuk harus ikut pelajaran Katekisasi dulu, jika mereka tidak ingin mereka boleh pergi ke Makale dan dibaptis oleh pendeta lain di sana.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tantangan Injil di Toraja pada waktu itu ialah adat-istiadat Toraja dan terutama golongan orang-orang yang menikmati aturan-aturan adat tersebut. Mereka antara lain to parenge’ dan to Minaa (imam aluk Todolo). Selain itu ada juga tantangan dari sesama orang Kristen dan Belanda yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun mereka Kristen namun iman mereka bukanlah iman Kristen. Tingkah laku mereka sangat memalukan dan membuat orang-orang Kristen lainnya menjadi malu. Akan tetapi bagaimanapun juga pekerjaan pasangan penginjil ini tidak sia-sia, ini terbukti dengan didirikannya puluhan sekolah dengan jumlah murid ratusan orang.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pada tanggal 26 juli 1917 Antonie Aris van de Loosdrecht menghembuskan nafas terakhirnya di Bori’. Sungguh suatu peristiwa yang sangat disayangkan harus terjadi. Misionaris ini meninggal setelah mengalami pendarahan yang hebat akibat luka tusukan tombak yang mengenai jantungnya. Kronologis peristiwa tersebut di mulai ketika Anton pada hari tersebut berencana berangkat ke beberapa wilayah kerjanya, yaitu Nanggala, kemudian ke Balusu lalu mengakhiri perjalanannya di Bori’. Entah mengapa rencananya ini diubah, ia tidak berangkat ke Nanggala dulu, tetapi ia berangkat ke Bori lebih dahulu. Kira-kira jam empat sore ia berangkat ke Bori’ dan tiba di sana sekitar jam lima sore. Setelah mandi di kali belakang rumah guru sekolah, ia kemudian duduk-duduk di beranda rumah guru bersama dengan guru sekolah di Bori’. Mereka mendiskusikan beberapa cerita-cerita Alkitab yang akan diterjemahkan kedalam bahasa Toraja. </div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ketika hari mulai gelab, tiba-tiba seseorang yang wajahnya telah dilumuri dengan arang sehingga menjadi sangat hitam dan sulit untuk dikenali, melompat ke beranda rumah tersebut. Tidak lama kemudian ia menghujamkan tombaknya ke dada Anton. Anton terjatuh dari atas kursi dan sang pembunuh melarikan diri. Saat itu ia terluka parah, salah seorang murid bermaksud untuk memanggil istri Anton di Barana’, namun Anton melarangnya ia berkata “Tidak usah! Sebentar lagi saya akan mati, sampaikan salam saya kepada Istri yang sangat saya cintai dan juga anak-anak saya, sekarang tinggalkan saya sendiri, saya ingin berdoa”. Dalam keadaan berdoa inilah Anton menghembuskan nafas terakhirnya. Darah seorang MARTIR telah tertumpah di Tana Toraja, untuk apa dan mengapa?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Menurut kesaksian dari beberapa orang, termasuk istri Anton, Kepala Polisi, dan bahkan pengakuan dari para pembunuh itu, penulis dapat menyimpulkan bahwa pembunuhan itu adalah sebuah pembunuhan berencana yang tujuannya memancing pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Peristiwa ini merupakan imbas dari keputusan pemerintah Hindia Belanda akan pembatasan hari perjudian. Sebelumnya pemerintah memberi isin dua belas hari untuk mengadakan perjudian, namun kemudian dikurangi menjadi empat hari. Akibatnya beberapa orang yang sudah sangat kecanduan terhadap judi bersumpah untuk membunuh controuler (wakil pemerintah Hindia Belanda, setingkat Camat). Dalam perjalanan mereka ke Rantepao pada sore tersebut, mereka melihat kedatangan Anton yang adalah orang Belanda, maka muncullah niat untuk juga membunuh Anton. Sungguh sangat disayangkan hal ini terjadi sebab ternyata pembunuh Anton adalah orang yang kenal dekat dengannya, bahkan anak dari pembunuh ini sangat rajin ke sekolah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">kisah perjuangan Anton dan Ida van der Loosdrecht yang rela menyeberangi lautan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang disayangi demi masyarakat Toraja yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, menjadi bagian yang perlu kita teladani. Sungguh suatu pelayanan yang tidak akan pernah dapat dibalas oleh masyarakat Toraja secara umum dan Gereja Toraja secara khusus. Injil yang bertumbuh dan menjadi dasar terbentuknya Gereja Toraja adalah Injil yang dihiasi dengan darah MARTIR Anton Aris van der Loosdrecht.</div>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://static.panoramio.com/photos/original/11506049.jpg" alt="" width="369" height="246" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht menikah pada 7 Agustus 1913. Kemudian mereka berangkat untuk memberitakan Injil ke Tanah Toraja pada tanggal 5 September 1913, ini berarti mereka pergi ke sebuah tempat yang baru dan sangat terpencil kurang lebih satu bulan setelah pernikahan mereka. Mereka tiba di Indonesia yang waktu itu dikenal dengan sebutan “Hindia Belanda”. Akan tetapi tujuan mereka bukanlah Indonesia, melainkan Tanah Toraja. Daerah ini merupakan daerah yang masih sangat terpencil, belum lagi ancaman dari penduduk asli yang saat itu masih sering mengadakan perburuan terhadap manusia (kalau kita tidak ingin menyebutnya sebagai kanibalisme). </p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p>Anton dan Ida (demikian panggilan mereka) tinggal di daerah Poso selama awal tahun 1914, di desa Tentena, sekitar 2000 Km timur laut Rantepao. Sebelum berangkat ke Rantepao, mereka dibantu oleh seorang penerjemah Alkitab N. Adriani, untuk menyesuaikan diri dan mengenal bahasa Toraja. Setelah merasa matang dengan pelatihan dan informasi yang didapatnya, mereka kembali ke Rantepao pada awal April. Jelas bahwa Anton dan Ida sadar benar akan masalah bahasa yang menjadi kendala bagi mereka memberitakan Injil, karena itu mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempelajari bahasa Toraja.</p>
<p>Mereka tinggal di Rantepao dan mulai melaksanakan berbagai pelayanan mereka. Karena pelayanan mereka banyak masyarakat Toraja yang tertarik dengan Injil sekalipun pada saat itu ikatan adat dan kepercayaan animisme masih sangat kuat. Anton dapat menjalin hubungan yang begitu akrab dengan para kepala-kepala suku dan juga para parenge’ atau para imam. Salah satu parenge’ yang dikenalnya cukup baik, bahkan dapat dikatakan menjalin persahabatan dengannya adalah Pong Maramba. Dikemudian hari hubungan ini menjadi rusak karena Pong Maramba meminta kepada Anton untuk bersedia menjual istrinya. Tentu saja permintaan ini didasari atas budaya patriakhal yang melihat perempuan sebagai milik laki-laki sehingga dapat diperlakukan semaunya, termasuk dijual. Sekalipun Anton telah menjelaskan bahwa dalam agama Kristen istri bukanlah milik melainkan sebagai rekan sekerja yang sama derajatnya, namun Pong Maramba tetap tidak mengerti penolakan Anton. Namun akhirnya konflik ini selesai ketika Pong Maramba di tangkap dan dipenjarakan.</p>
<p>Selama melaksanakan pelayanan di Tana Toraja, mereka memfokuskan pada pembangunan sekolah-sekolah yang dapat menampung anak-anak Toraja untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Anton sangat bekerja keras dalam hal ini, dalam salah satu suratnya ke Belanda, Alida mengatakan bahwa suaminya bekerja dari jam setengah enam pagi sampai jam sebelas malam. Dari surat-suratnya kita dapat menyimpulkan bahwa pasangan misionaris ini sangatlah ramah kepada masyarakat Toraja, hal ini diakibatkan karena mereka sendiri mendapatkan sambutan yang sangat ramah dan baik dari masyarakat Toraja. Selain itu mereka juga banyak memberikan pelayanan medis kepada masyarakat, dalam surat-surat mereka, mereka menjelaskan akan rendahnya kualitas kehidupan dan kesehatan masyarakat Toraja, bahkan para parenge’ mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan kehidupan para budaknya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://www.dailytravelphotos.com/images/2009/090616_Rantepao_Buffalo_Slaughter_9_MG_3652.jpg" alt="" width="336" height="224" /></a></p>
<p>Perkembangan misi yang dilakukan oleh pasangan misionaris ini sangat luar biasa, dalam beberapa waktu saja mereka telah berhasil mendirikan banyak sekolah, dan para guru-guru didatangkan dari daerah-daerah yang lebih dulu dikuasai oleh Belanda, seperti Ambon, Sangir, dan Manado. Akan tetapi jumlah orang yang dibabtis sampai saat itu belum ada. Hal ini disebabkan karena komitmen mereka akan pengejaran yang benar dan keyakinan yang kokoh dalam Kristus akan dicapai jika mereka dibaptis dengan pemahaman yang benar. Buah iman dari pelayanan mereka adalah dibaptisnya empat orang anak Toraja dari golongan parenge’ yang telah mengikuti katekisasi dalam waktu yang cukup lama. Anton tidak seperti pendeta-pendeta yang diutus dari Makassar di Makale. Ia sangat mementingkan kualitas iman yang lahir dari pemahaman yang benar akan iman Kristen, itulah sebabnya ia menolak membaptis keempat pemuda ini pada awalnya, ia memaksa mereka untuk harus ikut pelajaran Katekisasi dulu, jika mereka tidak ingin mereka boleh pergi ke Makale dan dibaptis oleh pendeta lain di sana.</p>
<p>Tantangan Injil di Toraja pada waktu itu ialah adat-istiadat Toraja dan terutama golongan orang-orang yang menikmati aturan-aturan adat tersebut. Mereka antara lain to parenge’ dan to Minaa (imam aluk Todolo). Selain itu ada juga tantangan dari sesama orang Kristen dan Belanda yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun mereka Kristen namun iman mereka bukanlah iman Kristen. Tingkah laku mereka sangat memalukan dan membuat orang-orang Kristen lainnya menjadi malu. Akan tetapi bagaimanapun juga pekerjaan pasangan penginjil ini tidak sia-sia, ini terbukti dengan didirikannya puluhan sekolah dengan jumlah murid ratusan orang.</p>
<p>Pada tanggal 26 juli 1917 Antonie Aris van de Loosdrecht menghembuskan nafas terakhirnya di Bori’. Sungguh suatu peristiwa yang sangat disayangkan harus terjadi. Misionaris ini meninggal setelah mengalami pendarahan yang hebat akibat luka tusukan tombak yang mengenai jantungnya. Kronologis peristiwa tersebut di mulai ketika Anton pada hari tersebut berencana berangkat ke beberapa wilayah kerjanya, yaitu Nanggala, kemudian ke Balusu lalu mengakhiri perjalanannya di Bori’. Entah mengapa rencananya ini diubah, ia tidak berangkat ke Nanggala dulu, tetapi ia berangkat ke Bori lebih dahulu. Kira-kira jam empat sore ia berangkat ke Bori’ dan tiba di sana sekitar jam lima sore. Setelah mandi di kali belakang rumah guru sekolah, ia kemudian duduk-duduk di beranda rumah guru bersama dengan guru sekolah di Bori’. Mereka mendiskusikan beberapa cerita-cerita Alkitab yang akan diterjemahkan kedalam bahasa Toraja. </p>
<p>Ketika hari mulai gelab, tiba-tiba seseorang yang wajahnya telah dilumuri dengan arang sehingga menjadi sangat hitam dan sulit untuk dikenali, melompat ke beranda rumah tersebut. Tidak lama kemudian ia menghujamkan tombaknya ke dada Anton. Anton terjatuh dari atas kursi dan sang pembunuh melarikan diri. Saat itu ia terluka parah, salah seorang murid bermaksud untuk memanggil istri Anton di Barana’, namun Anton melarangnya ia berkata “Tidak usah! Sebentar lagi saya akan mati, sampaikan salam saya kepada Istri yang sangat saya cintai dan juga anak-anak saya, sekarang tinggalkan saya sendiri, saya ingin berdoa”. Dalam keadaan berdoa inilah Anton menghembuskan nafas terakhirnya. Darah seorang MARTIR telah tertumpah di Tana Toraja, untuk apa dan mengapa?</p>
<p>Menurut kesaksian dari beberapa orang, termasuk istri Anton, Kepala Polisi, dan bahkan pengakuan dari para pembunuh itu, penulis dapat menyimpulkan bahwa pembunuhan itu adalah sebuah pembunuhan berencana yang tujuannya memancing pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Peristiwa ini merupakan imbas dari keputusan pemerintah Hindia Belanda akan pembatasan hari perjudian. Sebelumnya pemerintah memberi izin dua belas hari untuk mengadakan perjudian, namun kemudian dikurangi menjadi empat hari. Akibatnya beberapa orang yang sudah sangat kecanduan terhadap judi bersumpah untuk membunuh controuler (wakil pemerintah Hindia Belanda, setingkat Camat).</p>
<p>Dalam perjalanan mereka ke Rantepao pada sore tersebut, mereka melihat kedatangan Anton yang adalah orang Belanda, maka muncullah niat untuk juga membunuh Anton. Sungguh sangat disayangkan hal ini terjadi sebab ternyata pembunuh Anton adalah orang yang kenal dekat dengannya, bahkan anak dari pembunuh ini sangat rajin ke sekolah.</p>
<p>kisah perjuangan Anton dan Ida van de Loosdrecht yang rela menyeberangi lautan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang disayangi demi masyarakat Toraja yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, menjadi bagian yang perlu kita teladani. Sungguh suatu pelayanan yang tidak akan pernah dapat dibalas oleh masyarakat Toraja secara umum dan Gereja Toraja secara khusus. Injil yang bertumbuh dan menjadi dasar terbentuknya Gereja Toraja adalah Injil yang dihiasi dengan darah MARTIR Anton Aris van de Loosdrecht.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=108</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Florence Nightingale, Wanita Dengan Lentera&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=104</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=104#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 06:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Visi Medis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapengharapan.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[
Florence lahir di kota Florence, Italia pada 12 Mei 1820. Flo, begitu panggilannya, dilahirkan dari keluarga kaya. Karena itu hidupnya bergelimang kesenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa prihatin dengan orang-orang yang hidup miskin.
 
Pada 7 Pebruari 1873, Florence mendapat visi untuk mengabdi kepada masyarakat. Ia menulis, &#8220;Tuhan telah bersabda kepadaku dan memanggilku untuk mengabdi kepada-Nya.&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" src="http://understandinguncertainty.org/files/FlorenceNightingale.jpg" alt="" width="215" height="169" /></p>
<p>Florence lahir di kota Florence, Italia pada 12 Mei 1820. Flo, begitu panggilannya, dilahirkan dari keluarga kaya. Karena itu hidupnya bergelimang kesenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa prihatin dengan orang-orang yang hidup miskin.</p>
<p> </p>
<p>Pada 7 Pebruari 1873, Florence mendapat visi untuk mengabdi kepada masyarakat. Ia menulis, &#8220;Tuhan telah bersabda kepadaku dan memanggilku untuk mengabdi kepada-Nya.&#8221; Visi itu selalu menantangnya untuk mematuhi panggilan mulia ini. Namun, tampaknya hal ini tidak semudah yang ia bayangkan.</p>
<p> </p>
<p>Keluarganya, terutama sang ibu, menentang keinginannya. Pengekangan itu justru membuatnya tertekan sehingga ia jatuh sakit. Oleh karena itu, ia pergi ke rumah bibinya. Di rumah bibinya Florence merasa agak terhibur. Rasa simpati Flo terhadap kehidupan di sekitarnya yang miskin dan menderita mulai membuatnya nekad. Karena itu, ia tak segan mengunjungi mereka sambil membagikan sup dan uang.</p>
<p> </p>
<p>Di benak Flo yang ada hanyalah keprihatinannya terhadap penderitaan manusia. Karena itu, ia bertekad menjadi orang yang berguna bagi orang miskin. Tetapi apa yang dapat dilakukannya? Tampaknya menolong orang melarat bukanlah pekerjaan yang tepat baginya. Karena itu, untuk beberapa waktu ia agak bingung menentukan ladang pelayanan yang tepat guna merespon panggilan Tuhan yang diterimanya.</p>
<p> </p>
<p>Pada tahun 1844, saat Florence berusia 24 tahun, ia menemukan pekerjaan yang cocok untuk memenuhi panggilannya, yaitu menjadi perawat. Tanpa berkonsultasi dengan orangtuanya ia memutuskan belajar tentang keperawatan. Keputusannya membuat keluarganya marah, Namun tekadnya telah bulat. Secara diam-diam ia mulai mempelajari laporan-laporan tentang rumah sakit untuk memperbaiki citra perawat yang buruk waktu itu.</p>
<p> </p>
<p>Selama beberapa tahun Flo mengalami ketidakpastian hidup. Kekecewaan demi kekecewaan dialaminya silih berganti. Ibu dan kakaknya selalu mencercanya. Mereka tak mampu merasakan pergumulan batinnya. Bahkan tahun 1849 Flo hampir bunuh diri, sebelum pada akhirnya ia berhasil mengatasinya. Ia, bahkan sempat jatuh cinta pada Robert Milnes seorang lelaki cerdas yang dikaguminya. Sayang, rasa cintanya itu tidak terpenuhi. Pasalnya bagi Flo pernikahan hanya akan menghalangi pengabdiannya. Dengan berat hati ia menolak pinangan lelaki pujaannya.</p>
<p> </p>
<p>Pada Oktober 1846 seorang temannya memberi informasi tentang keadaan rumah sakit milik gereja yang ada di Kaiserswerth, Jerman. Selama dua minggu di kota itu Flo mengamati para suster merawat orang sakit dan itu berkesan baginya. Karena itu, ia juga bertekad mengajak wanita lain untuk terlibat pelayanan kemanusiaan.</p>
<p> </p>
<p>Meski kendala dari keluarganya datang beruntun, ada saat bagi Flo untuk mengambil keputusan. Kali ini dengan berat ia harus menentang keluarganya apa pun alasan atau risiko yang bakal dihadapinya.</p>
<p> </p>
<p>Ia belajar ilmu keperawatan di Jerman, kemudian di Prancis. Setelah pengetahuannya tentang keperawatan cukup memadai, ia kembali ke London dan menjadi guru sebuah rumah sakit besar. Di rumah sakit ini rasa cintanya terhadap manusia yang menderita semakin besar. Karena itu, ia menentang diskriminasi yang berlaku pada waktu itu. Flo yakin bahwa sikap hidup yang demikian tidak sesuai dengan kasih yang diajarkan Tuhan Yesus.</p>
<p> </p>
<p>Selain belajar tentang keperawatan, ia juga giat mempelajari segala kekurangan yang menyebabkan pelayanan rumah sakit menjadi buruk. Atas ketekunan dan kejeliannya dalam melakukan pelayanan, ia menjadi orang yang sangat dicintai. Ia menulis semua pengamatannya dalam tulisan ilmiah yang memuat segala kekurangan dan jalan keluar pada sistem rumah sakit di Inggris. Tulisan ini membuat Flo semakin terkenal.</p>
<p> </p>
<p>Flo kemudian dipercaya mengkoordinasi pelayanan kesehatan tentara Inggris dan sekutu selama perang Krim. Di Rumah Sakit Militer Scutari ia melihat kondisi dan pengelolaan rumah sakit yang buruk. Ia menyaksikan para serdadu bergelimpangan dan terluka sekarat dibiarkan begitu saja bak binatang tak berharga. Flo melengkapi rumah sakit dengan berbagai perlengkapan yang memadai, bahkan merenovasinya dengan hasil donasi dan uangnya sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">
<a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_eq9Ae3PzIVE/Seo5dIwIpYI/AAAAAAAACnE/QYlIphm197U/s400/Florence+Nightingale+and+the+Crimean+War.jpg" alt="" width="400" height="337" /></a></p>
<p> </p>
<p>Setelah perang usai perjuangan dan kegigihannya semakin dikenal. Di Inggris ia dianggap sebagai malaikat penyelamat perang Krim yang ganas itu. Ia menerima berbagai pujian dan penghargaan. Sumbangan yang datang berjumlah banyak sehingga diputuskan mendirikan Yayasan Nightigale yang menangani sebuah lembaga pelatihan keperawatan.</p>
<p> </p>
<p>Seusai perang Krim, Flo tampak kelelahan. Tenaganya telah terkuras dalam perjuangan di medan perang. Saat itu ia berpikir bahwa inilah akhir perjuangannya. Ia tak pernah membayangkan bahwa itu baru permulaan dari suatu perjuangan panjang yang membutuhkan pengorbanan. Perang Krim bagaikan laboratorium bagi kasus yang berhubungan dengan keperawatan. Pengamatan yang dilakukan Flo terhadap puluhan rumah sakit di Eropa dan di barak-barak militer menunjukkan bahwa kematian para pasien sering diakibatkan oleh bangunan yang lembab, kotor, tanpa ventilasi, saluran air yang tidak teratur dan jatah makanan minim.</p>
<p> </p>
<p>Selama 50 tahun sisa hidupnya, Florence Nightigale menjadi cacat dan lumpuh. Pada hari-hari itu ia tidak lagi dapat bergerak bebas karena selalu berada di atas kursi roda. Inilah yang membuatnya kesepian. Apalagi setelah kematian Sidney Herbert dan beberapa teman yang membantunya. Semuanya itu menggoncangkan jiwanya. Namun Flo tetap berjuang menjalankan tugasnya.</p>
<p> </p>
<p>Atas perjuangannya, Flo dapat mempengaruhi pemerintah India untuk memperbaiki sistem kesehatan di negeri Sungai Gangga. Ia juga berhasil membangkitkan reformasi asrama gelandangan di Inggris dan menulis ribuan halaman kertas kerja yang revolusioner di bidang keperawatan. Beberapa karya monumentalnya antara lain, sekolah perawat wanita di St. Thomas`s Hospital London dan sebuah karya berjudul `Notes on Nursing of The Sick Poor`.</p>
<p> </p>
<p>Henry Dunant pendiri Palang Merah Internasional dan pelopor Konvensi Jenewa pun mengakui bahwa kertas kerja Florence merupakan ilham bagi dirinya untuk melakukan hal-hal berguna bagi kemanusiaan. Bahkan, apa yang dilakukan Henry Dunant merupakan penghargaan bagi Florence Nightigale.</p>
<p> </p>
<p>Sebelum kematiannya, di seluruh dunia telah berdiri ribuan sekolah perawat dan semua diakui sebagai karya Florence Nightigale. Ia meninggal pada 13 Agustus 1910 dalam usia 90 tahun.</p>
<p> </p>
<p>Ia telah menjadi ibu terbaik bagi ribuan pasien yang menderita sakit. Terang Kristus yang bersinar melalui Florence Nightigale yang dijuluki dengan wanita dengan lentera benar-benar telah menyinari lorong-lorong gelap kesehatan manusia. Walaupun lentera di tangannya telah padam karena ia telah berpulang ke rumah Bapa di surga, Flo telah berhasil menyalakan banyak lentera lain yang menyala secara estafet sehingga tak akan padam sampai akhir dunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=104</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jim Yost, Menyatu dengan Papua&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=100</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=100#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 16:47:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Papua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapengharapan.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[ 
&#8220;Saya hanya mau melayani ke tempat di mana orang lain tidak mau melayani dan masuk ke tempat di mana orang lain belum pernah dan tidak mau masuk.&#8221; Jim Yost. Jim Yost berumur 13 tahun ketika ayahnya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja tanpa figur seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Saya hanya mau melayani ke tempat di mana orang lain tidak mau melayani dan masuk ke tempat di mana orang lain belum pernah dan tidak mau masuk.&#8221; Jim Yost. Jim Yost berumur 13 tahun ketika ayahnya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja tanpa figur seorang ayah membuatnya terombang-ambing oleh lingkungan, sehingga akhirnya ia terjerumus ke lembah kelam : narkotika.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Hari-hari dilaluinya tanpa kedamaian. Dunia obat bius begitu menjeratnya sampai ia harus meringkuk dalam penjara. Namun Allah dengan kasihNya yang begitu besar menjamah Jim, sehingga ia masuk ke dalam rencanaNya. Allah membawa Jim pada suatu rencana agung yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang misionaris, apalagi ke tempat yang begitu jauh, yang sering disebut sebagai ujung bumi : Irian! (sekarang Papua, red.) Perjalanan misinya dimulai ketika ia menjadi mahasiswa di sebuah seminari di California, USA, setelah pertobatannya. Sebenarnya Jim hanya ingin belajar satu tahun, tetapi entah karena apa setelah satu tahun dilewati di seminari itu ia meneruskan lagi sampai empat tahun.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Jim mengatakan bahwa selain rektornya adalah mantan misionaris di Jamaika, sehingga pelajaran misi selalu ditekankan di semua kurikulum, juga banyak misionaris yang datang ke sekolahnya untuk mengajar. Ia tadinya tidak berpikir akan menjadi seorang misionaris karena ia hanya mau belajar Alkitab dan menjadi seorang gembala jemaat di California. Pada tahun ketiga ia belajar, ada sebuah jemaat di Oregon, USA, yang gembalanya baru kembali sebagai misionaris selama 30 tahun di Thailand. Jim bekerja sama dengan misionaris itu selama 2 bulan. Dalam waktu yang singkat itulah Tuhan menaruh visi untuk pelayanan misi sedunia ke dalam hati Jim.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Setelah menyelesaikan tahun keempat ada praktek pelayanan ke luar negeri. Jim dikirim ke Korea Selatan dan Jepang. Tujuan praktek pelayanan ini adalah mencari peneguhan sehingga para mahasiswa tahu pasti kemana mereka harus melayani. Jim berada di Korea selama satu bulan dan di Jepang selama satu bulan. Selama di Korea, Jim merasa senang melihat gereja yang berkembang pesat. Namun panggilan Tuhan belum datang ketika ia berada di Korea. Saat berada di Kyoto, yang merupakan pusat penyembahan berhala di Jepang, pada suatu malam Jim berdoa semalam suntuk. Ia berkata kepada Tuhan,</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Tuhan, saya tidak suka tinggal di negeri asing. Saya tidak suka makan makanan yang aneh. Saya tidak bisa berkomunikasi karena bahasa mereka lain. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa menjadi seorang misionaris.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dan Tuhan menjawabnya dengan tegas, &#8220;Jim, engkau tidak bisa menjadi misionaris, tetapi Aku bisa menjadikan engkau seorang misionaris.&#8221; Mulai saat itu Jim yang fasih berbahasa Indonesia ini sadar dan tidak mau bergantung pada kemampuan dan keinginannya sendiri. Ia hanya ingin bergantung kepada kemampuan dan kehendak Allahnya. Ia merasa punya kepastian bahwa akan datang harinya dimana Tuhan akan membawanya keluar dari Amerika dan melayani di luar negeri. Ia tahu pintu akan dibukakan dan itu pasti terjadi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sekembalinya dari Jepang, Jim bersama istrinya kembali ke bangku kuliah untuk belajar Linguistik (Ilmu Bahasa) dan Misiologi selama satu tahun di Fuller Seminary, L.A. Ini adalah persiapan yang akan dipakai untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku terasing di Irian Jaya. &#8220;Saya mau melakukan pelayanan di mana orang lain tidak mau melakukannya. Di mana ada ladang pelayanan yang tidak diinginkan orang lain atau tidak bisa dilaksanakan orang lain, saya akan masuk ke sana.&#8221; kata Jim.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sebab itu Jim dan istrinya bertanya kepada teman-temannya di mana ada suku yang belum diinjili dan belum ada kontak dengan dunia luar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suku Sawi di pedalaman Irian Jaya. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Pelayanan misi di bagian selatan telah dirintis oleh Don Richardson, sementara kontak dengan bagian utara sangat kurang. Di suku Sawi utara inilah Jim dan istrinya masuk sebagai misionaris pertama sampai hari ini.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Meninggalkan budaya hidup Amerika merupakan pergumulan sendiri bagi Jim Yost. Menurut dia situasi di Amerika atau Jakarta sangat berbeda dengan Irian Jaya. Pelayanan di Jakarta itu terlalu enak, terlalu mudah untuk bergantung pada orang lain. Sedangkan pelayanan di hutan belantara Irian Jaya, tinggal seorang diri beserta keluarga, terpencil, kepada siapa akan bergantung, selain kepada Tuhan saja ? Itulah sebabnya sejak semula Jim sudah menyiapkan mentalnya. Sekali berangkat ke Irian Jaya, ia memutuskan dan &#8220;membakar&#8221; semua jembatan yang mengantarnya kembali ke Amerika.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Ada orang mau menjadi misionaris untuk jangka waktu satu atau dua tahun, ada juga yang sampai empat tahun. Saya perhatikan, di tempat tugas yang terpencil itu mereka selalu rindu kembali ke tempat asal, selalu berpikir kapan kembali ke keluarga dan teman-teman ? Saya yakin untuk menjadi misionaris seseorang harus putus hubungan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">dengan kampung halamannya, seperti membakar jembatan dan kapal-kapal sehingga tidak bisa kembali pulang. Kalau ada kesempatan untuk kembali, itu semata-mata dari Tuhan, tetapi kita harus siap untuk pergi dan pergi terus tanpa berpikir untuk kembali,&#8221; kata Jim yang sudah 20 tahun hidup di antara suku Sawi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Saya banyak mendengar tentang kegiatan misi dalam jangka pendek, yang mereka sebut sebagai misi kunjungan. Itu baik dan dapat sedikit menolong. Tetapi untuk menghasilkan pekerjaan yang besar dan bertahan lama harus ada orang yang bertahan hidup lama di suatu wilayah dan tinggal terus menerus, menyatu dengan masyarakat setempat. Itulah yang saya lakukan untuk menghilangkan identitas Amerika saya. Saya menyatu dengan suku Sawi untuk mengambil nilai-nilai hidup mereka, untuk saya jadikan nilai-nilai hidup saya sendiri,&#8221; ungkap Jim yang wajahnya mirip Mc Gyver ini. Jim mengaku banyak membaca buku-buku tentang Irian sebelumnya, tetapi pada waktu terjun ke medan pelayanan, ternyata keadaannya banyak berbeda, dan lebih berat daripada apa yang ditulis orang.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Saat kami turun dari pesawat yang membawa kami, semua orang mengerumuni kami dengan keheran-heranan. Tubuh kami diraba-raba dan akhirnya kami dibawa ke perkampungan mereka. Rupanya mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut kedatangan kami. Untuk menghormati kami sebagai tamu, mereka memberikan makanan khas, yaitu ulat sagu yang harus kami makan hidup-hidup !&#8221;</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">katanya sambil memperagakan cara memasukkan ulat yang menjijikkan itu ke dalam mulutnya. Lebih lanjut Jim menceritakan awal-awal pelayanannya di sana.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Kami tahu di sana sering terjadi perang suku, tetapi tidak tahu kalau pada hari pertama kami datang ada perang sungguhan di depan mata kami. Kejadian itu sangat mengejutkan kami. Namun di saat yang amat genting itu Roh Allah memberikan keberanian kepada kami, sehingga kami tidak merasa takut sama sekali. Saya bergerak ke kanan, istri saya ke kiri. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan perang tersebut dengan cara mematahkan panah, lembing, tombak, dan alat-alat perang lainnya semampu kami.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ternyata Jim dan istrinya tidak satu kali saja menghadapi peperangan semacam itu. Setiap minggu selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka selalu terjadi perang suku. Tantangan lain datang bagi pasangan yang pada waktu itu baru menikah ini adalah saat Jim terserang malaria dan hampir mati. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, sehingga sampai ia lupa sudah berapa kali ia terserang penyakit berbahaya yang hampir merenggut nyawanya itu. Bagi Jim Yost dan istri ketergantungan kepada Tuhan sangatlah mutlak sebab bila Tuhan yang membuka pelayanan yang baru yang tidak mampu dikerjakan manusia, maka Tuhan akan memperlengkapi dan memberi kemampuan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Harga yang harus dibayar untuk memenangkan hati dan jiwa orang-orang Sawi itu cukup mahal dan Jim Yost beserta istri mempertaruhkan hidup mereka sekalipun tantangannya demikian berat. Suatu saat Jim mengalami kecelakaan karena pesawat yang ia tumpangi jatuh dan tengggelam ke sungai. Namun tangan Tuhan menyelamatkan hamba yang dikasihiNya ini, sehingga ia tidak mengalami cedera sedikitpun. Ketika ditanya apakah pergumulan terberat yang dialami selama berada di Irian, Jim menjelaskan,</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Sebenarnya ini adalah rahasia. Mungkin orang lain melihat misionaris itu orang yang kuat secara rohani. Itu tidak benar ! Ada pergumulan berat ketika iblis mencobai dengan perasaan ditinggalkan. Kami melayani di tengah-tengah hutan Irian dan tidak ada kontak dengan orang-orang luar. Orang-orang di gereja asal kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Orang-orang di Jakarta atau tempat-tempat lain akan melupakan kami, walaupun kami kirimkan pokok-pokok doa mengenai pelayanan kami dan mereka lupa berdoa bagi kami. Kami sendirian. Tuhan mengijinkan iblis mencobai dengan perasaan itu. Tidak ada orang atau organisasi yang memperhatikan kami. Sebab itu banyak misionaris yang pulang ke negerinya karena patah semangat.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Jadi, yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan yang erat setiap hari dengan Tuhan. Hidup melayani di perkotaan banyak mendapat dukungan dari orang lain. Kalau anda sedang merasa &#8220;down&#8221;, anda dapat datang ke gereja dan mendengarkan khotbah yang bagus dari gembala yang menguatkan. Atau bila anda sedang kecewa, anda dapat memutar kaset-kaset rohani dan anda dikuatkan. Tetapi hidup di hutan seperti kami, tidak memiliki hiburan apa-apa. Hanya diri sendiri bersama Tuhan.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">tambahnya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mengabarkan berita keselamatan kepada suku Sawi tidaklah mudah. Bertahun-tahun Jim dan istrinya mengajar mereka untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak satupun yang mau percaya. Sementara itu istri Jim bekerja di poliklinik, menolong orang-orang yang sakit. Kebanyakan orang-orang Sawi itu sakit borok di kaki, sampai kelihatan tulangnya. Dengan penuh kasih mereka diobati atau disuntik dan didoakan. Ajaib, dalam waktu dua tiga hari penyakit itu sembuh.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pada suatu saat ada seorang anak kecil jatuh dari sampan dan tenggelam di sungai yang sangat pekat warnanya karena banyak tumbuhan air. Setelah ditemukan, anak tersebut sudah tidak bernyawa dan perutnya kembung penuh dengan air. Semua orang menangis</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">meraung-raung tanpa pengharapan. Saat itulah Jim berdoa, memohon belas kasihan Allah agar nyawa anak itu dikembalikan lagi. Mujizat terjadi, anak itu hidup lagi !</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Akibatnya seluruh kampung percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mereka mau dibaptis. Perjuangan Jim tidaklah sia-sia. Ia baru berumur 24 tahun bersama istri tercintanya ketika mereka masuk ke pedalaman hutan belantara Irian demi keselamatan &#8220;saudara-saudaranya&#8221;, suku Sawi, di Irian bagian selatan. Apa yang ia tabur, kini sudah berbuah. Oleh pertolongan Tuhan saat ini berdiri tujuh sidang jemaat suku Sawi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Jim Yost mengungkapkan bahwa setelah enam bulan ia baru bisa berkomunikasi dengan bahasa Sawi dan setelah satu tahun ia lebih lancar lagi, sehingga ia dapat menjelaskan hal-hal rohani. Setiap hari ia bersama laki-laki Sawi pergi berburu ke hutan dan istrinya juga masuk ke hutan bersama para wanita Sawi untuk mencari sagu. Dengan cara itu ia menjadi cepat menangkap bahasa Sawi sampai ia dapat menyelesaikan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Sawi. Pada saat ini ia sedang menerjemahkan Alkitab Perjanjian Lama bersama-sama orang-orang Sawi dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Anak pertamanya, Amy (16) lahir di Amerika ketika ia sedang cuti di sana. Sementara itu Jennifer (13) dan Megan (9) lahir di Irian Jaya. Ketiganya sangat menyatu dengan budaya Sawi sekalipun mereka adalah orang Amerika. Dalam hal pendidikan anak-anaknya, istri Jim mengajar mereka di rumah dengan memakai buku-buku yang dibawa dari Amerika sampai sekarang. &#8220;Kami tidak mau berpisah dengan anak-anak. Karena itu mereka tidak kami kirim ke luar untuk belajar, sehingga mereka melihat apa yang ada pada kami. Mereka melihat diri saya sebagai misionaris, bukan hanya orang tua. Contohnya, anak kami yang pertama, Amy, setiap hari membantu ibunya di poliklinik.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ia dapat menyuntik orang-orang sakit, dapat menjahit luka, dapat menolong ibu-ibu yang melahirkan dan lain-lain. Saya yakin dia nanti bisa jadi dokter. Setelah pendidikan selesai nanti Amy dapat kembali ke Irian Jaya.&#8221; kata Jim.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">&#8220;Kami tidak kuatir dengan pendidikan mereka sebab yang kami ajarkan sama dengan di sekolah-sekolah Amerika. Tentang pergaulan, memang mereka tidak bergaul dengan anak-anak Amerika sebayanya dan mereka mungkin sedikit rugi, tetapi mereka lebih kaya karena pergaulan dengan anak-anak pedalaman. Mereka tidak punya budaya sendiri, walaupun orang tua mereka berbudaya Amerika. Mereka memiliki supra budaya sehingga gampang menyesuaikan diri,&#8221;</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">tambah Jim.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sebab itu, menurut Jim, misionaris yang paling efektif adalah anak-anak dari para misionaris karena mereka lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sampai hari ini Jim Yost sudah 20 tahun tinggal di antara saudara-saudaranya, suku Sawi, bersama keluarganya. Mereka berkata bahwa Irian adalah tanah airnya dan menyatu dalam hidup dan budaya Sawi. Dalam pelayanannya, Jim berusaha menerapkan pelayanan terpadu, pelayanan secara utuh yang meliputi roh, jiwa dan tubuh. Ia tidak hanya mengajarkan hal-hal rohani, tetapi ia juga membuka sekolah untuk memberantas buta huruf, mengajarkan kursus peternakan, pelayanan kesehatan, proyek air bersih dll. Jim yakin apabila mereka menerima keselamatan maka hal itu akan mengubah semua kehidupan mereka.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Suku-suku terasing di pedalaman Irian seperti suku Sawi yang ditinggalkan dunia moderen, tetapi diperhatikan Allah. Ia telah mengirimkan hambaNya untuk menyelamatkan mereka. Ia yang telah menciptakan suku-suku bangsa, Ia pula yang akan menyelamatkan mereka dengan caraNya sendiri. Terpujilah Allah </div>
<p><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter size-medium wp-image-99" title="jim yost" src="http://ceritapengharapan.com/wp-content/uploads/2009/12/jim-yost-2-300x217.jpg" alt="jim yost" width="300" height="217" /></a></p>
<p>&#8220;Saya hanya mau melayani ke tempat di mana orang lain tidak mau melayani dan masuk ke tempat di mana orang lain belum pernah dan tidak mau masuk.&#8221; Jim Yost. Jim Yost berumur 13 tahun ketika ayahnya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja tanpa figur seorang ayah membuatnya terombang-ambing oleh lingkungan, sehingga akhirnya ia terjerumus ke lembah kelam : narkotika.</p>
<p> </p>
<p>Hari-hari dilaluinya tanpa kedamaian. Dunia obat bius begitu menjeratnya sampai ia harus meringkuk dalam penjara. Namun Allah dengan kasihNya yang begitu besar menjamah Jim, sehingga ia masuk ke dalam rencanaNya. Allah membawa Jim pada suatu rencana agung yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang misionaris, apalagi ke tempat yang begitu jauh, yang sering disebut sebagai ujung bumi : Irian! (sekarang Papua, red.) Perjalanan misinya dimulai ketika ia menjadi mahasiswa di sebuah seminari di California, USA, setelah pertobatannya. Sebenarnya Jim hanya ingin belajar satu tahun, tetapi entah karena apa setelah satu tahun dilewati di seminari itu ia meneruskan lagi sampai empat tahun.</p>
<p> </p>
<p>Jim mengatakan bahwa selain rektornya adalah mantan misionaris di Jamaika, sehingga pelajaran misi selalu ditekankan di semua kurikulum, juga banyak misionaris yang datang ke sekolahnya untuk mengajar. Ia tadinya tidak berpikir akan menjadi seorang misionaris karena ia hanya mau belajar Alkitab dan menjadi seorang gembala jemaat di California. Pada tahun ketiga ia belajar, ada sebuah jemaat di Oregon, USA, yang gembalanya baru kembali sebagai misionaris selama 30 tahun di Thailand. Jim bekerja sama dengan misionaris itu selama 2 bulan. Dalam waktu yang singkat itulah Tuhan menaruh visi untuk pelayanan misi sedunia ke dalam hati Jim.</p>
<p> </p>
<p>Setelah menyelesaikan tahun keempat ada praktek pelayanan ke luar negeri. Jim dikirim ke Korea Selatan dan Jepang. Tujuan praktek pelayanan ini adalah mencari peneguhan sehingga para mahasiswa tahu pasti kemana mereka harus melayani. Jim berada di Korea selama satu bulan dan di Jepang selama satu bulan. Selama di Korea, Jim merasa senang melihat gereja yang berkembang pesat. Namun panggilan Tuhan belum datang ketika ia berada di Korea. Saat berada di Kyoto, yang merupakan pusat penyembahan berhala di Jepang, pada suatu malam Jim berdoa semalam suntuk. Ia berkata kepada Tuhan, &#8221;Tuhan, saya tidak suka tinggal di negeri asing. Saya tidak suka makan makanan yang aneh. Saya tidak bisa berkomunikasi karena bahasa mereka lain. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa menjadi seorang misionaris.&#8221;</p>
<p> </p>
<p>Dan Tuhan menjawabnya dengan tegas, &#8220;Jim, engkau tidak bisa menjadi misionaris, tetapi Aku bisa menjadikan engkau seorang misionaris.&#8221; Mulai saat itu Jim yang fasih berbahasa Indonesia ini sadar dan tidak mau bergantung pada kemampuan dan keinginannya sendiri. Ia hanya ingin bergantung kepada kemampuan dan kehendak Allahnya. Ia merasa punya kepastian bahwa akan datang harinya dimana Tuhan akan membawanya keluar dari Amerika dan melayani di luar negeri. Ia tahu pintu akan dibukakan dan itu pasti terjadi.</p>
<p> </p>
<p>Sekembalinya dari Jepang, Jim bersama istrinya kembali ke bangku kuliah untuk belajar Linguistik (Ilmu Bahasa) dan Misiologi selama satu tahun di Fuller Seminary, L.A. Ini adalah persiapan yang akan dipakai untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku terasing di Irian Jaya. &#8220;Saya mau melakukan pelayanan di mana orang lain tidak mau melakukannya. Di mana ada ladang pelayanan yang tidak diinginkan orang lain atau tidak bisa dilaksanakan orang lain, saya akan masuk ke sana.&#8221; kata Jim.</p>
<p> </p>
<p>Sebab itu Jim dan istrinya bertanya kepada teman-temannya di mana ada suku yang belum diinjili dan belum ada kontak dengan dunia luar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suku Sawi di pedalaman Irian Jaya. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Pelayanan misi di bagian selatan telah dirintis oleh Don Richardson, sementara kontak dengan bagian utara sangat kurang. Di suku Sawi utara inilah Jim dan istrinya masuk sebagai misionaris pertama sampai hari ini.</p>
<p> </p>
<p>Meninggalkan budaya hidup Amerika merupakan pergumulan sendiri bagi Jim Yost. Menurut dia situasi di Amerika atau Jakarta sangat berbeda dengan Irian Jaya. Pelayanan di Jakarta itu terlalu enak, terlalu mudah untuk bergantung pada orang lain. Sedangkan pelayanan di hutan belantara Irian Jaya, tinggal seorang diri beserta keluarga, terpencil, kepada siapa akan bergantung, selain kepada Tuhan saja ? Itulah sebabnya sejak semula Jim sudah menyiapkan mentalnya. Sekali berangkat ke Irian Jaya, ia memutuskan dan &#8220;membakar&#8221; semua jembatan yang mengantarnya kembali ke Amerika.</p>
<p> </p>
<p>&#8220;Ada orang mau menjadi misionaris untuk jangka waktu satu atau dua tahun, ada juga yang sampai empat tahun. Saya perhatikan, di tempat tugas yang terpencil itu mereka selalu rindu kembali ke tempat asal, selalu berpikir kapan kembali ke keluarga dan teman-teman ? Saya yakin untuk menjadi misionaris seseorang harus putus hubungan dengan kampung halamannya, seperti membakar jembatan dan kapal-kapal sehingga tidak bisa kembali pulang. Kalau ada kesempatan untuk kembali, itu semata-mata dari Tuhan, tetapi kita harus siap untuk pergi dan pergi terus tanpa berpikir untuk kembali,&#8221; kata Jim yang sudah 20 tahun hidup di antara suku Sawi.</p>
<p> </p>
<p>&#8220;Saya banyak mendengar tentang kegiatan misi dalam jangka pendek, yang mereka sebut sebagai misi kunjungan. Itu baik dan dapat sedikit menolong. Tetapi untuk menghasilkan pekerjaan yang besar dan bertahan lama harus ada orang yang bertahan hidup lama di suatu wilayah dan tinggal terus menerus, menyatu dengan masyarakat setempat. Itulah yang saya lakukan untuk menghilangkan identitas Amerika saya. Saya menyatu dengan suku Sawi untuk mengambil nilai-nilai hidup mereka, untuk saya jadikan nilai-nilai hidup saya sendiri,&#8221; ungkap Jim yang wajahnya mirip Mc Gyver ini. Jim mengaku banyak membaca buku-buku tentang Irian sebelumnya, tetapi pada waktu terjun ke medan pelayanan, ternyata keadaannya banyak berbeda, dan lebih berat daripada apa yang ditulis orang.</p>
<p> </p>
<p>&#8220;Saat kami turun dari pesawat yang membawa kami, semua orang mengerumuni kami dengan keheran-heranan. Tubuh kami diraba-raba dan akhirnya kami dibawa ke perkampungan mereka. Rupanya mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut kedatangan kami. Untuk menghormati kami sebagai tamu, mereka memberikan makanan khas, yaitu ulat sagu yang harus kami makan hidup-hidup !&#8221; katanya sambil memperagakan cara memasukkan ulat yang menjijikkan itu ke dalam mulutnya. Lebih lanjut Jim menceritakan awal-awal pelayanannya di sana.</p>
<p> </p>
<p>&#8220;Kami tahu di sana sering terjadi perang suku, tetapi tidak tahu kalau pada hari pertama kami datang ada perang sungguhan di depan mata kami. Kejadian itu sangat mengejutkan kami. Namun di saat yang amat genting itu Roh Allah memberikan keberanian kepada kami, sehingga kami tidak merasa takut sama sekali. Saya bergerak ke kanan, istri saya ke kiri. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan perang tersebut dengan cara mematahkan panah, lembing, tombak, dan alat-alat perang lainnya semampu kami.&#8221;</p>
<p> </p>
<p>Ternyata Jim dan istrinya tidak satu kali saja menghadapi peperangan semacam itu. Setiap minggu selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka selalu terjadi perang suku. Tantangan lain datang bagi pasangan yang pada waktu itu baru menikah ini adalah saat Jim terserang malaria dan hampir mati. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, sehingga sampai ia lupa sudah berapa kali ia terserang penyakit berbahaya yang hampir merenggut nyawanya itu. Bagi Jim Yost dan istri ketergantungan kepada Tuhan sangatlah mutlak sebab bila Tuhan yang membuka pelayanan yang baru yang tidak mampu dikerjakan manusia, maka Tuhan akan memperlengkapi dan memberi kemampuan.</p>
<p> </p>
<p>Harga yang harus dibayar untuk memenangkan hati dan jiwa orang-orang Sawi itu cukup mahal dan Jim Yost beserta istri mempertaruhkan hidup mereka sekalipun tantangannya demikian berat. Suatu saat Jim mengalami kecelakaan karena pesawat yang ia tumpangi jatuh dan tengggelam ke sungai. Namun tangan Tuhan menyelamatkan hamba yang dikasihiNya ini, sehingga ia tidak mengalami cedera sedikitpun.</p>
<p> </p>
<p>Ketika ditanya apakah pergumulan terberat yang dialami selama berada di Irian, Jim menjelaskan, &#8221;Sebenarnya ini adalah rahasia. Mungkin orang lain melihat misionaris itu orang yang kuat secara rohani. Itu tidak benar ! Ada pergumulan berat ketika iblis mencobai dengan perasaan ditinggalkan. Kami melayani di tengah-tengah hutan Irian dan tidak ada kontak dengan orang-orang luar. Orang-orang di gereja asal kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Orang-orang di Jakarta atau tempat-tempat lain akan melupakan kami, walaupun kami kirimkan pokok-pokok doa mengenai pelayanan kami dan mereka lupa berdoa bagi kami. Kami sendirian. Tuhan mengijinkan iblis mencobai dengan perasaan itu. Tidak ada orang atau organisasi yang memperhatikan kami. Sebab itu banyak misionaris yang pulang ke negerinya karena patah semangat.&#8221;</p>
<p> </p>
<p>&#8220;Jadi, yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan yang erat setiap hari dengan Tuhan. Hidup melayani di perkotaan banyak mendapat dukungan dari orang lain. Kalau anda sedang merasa &#8220;down&#8221;, anda dapat datang ke gereja dan mendengarkan khotbah yang bagus dari gembala yang menguatkan. Atau bila anda sedang kecewa, anda dapat memutar kaset-kaset rohani dan anda dikuatkan. Tetapi hidup di hutan seperti kami, tidak memiliki hiburan apa-apa. Hanya diri sendiri bersama Tuhan.&#8221; tambahnya.</p>
<p> </p>
<p>Mengabarkan berita keselamatan kepada suku Sawi tidaklah mudah. Bertahun-tahun Jim dan istrinya mengajar mereka untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak satupun yang mau percaya. Sementara itu istri Jim bekerja di poliklinik, menolong orang-orang yang sakit. Kebanyakan orang-orang Sawi itu sakit borok di kaki, sampai kelihatan tulangnya. Dengan penuh kasih mereka diobati atau disuntik dan didoakan. Ajaib, dalam waktu dua tiga hari penyakit itu sembuh.</p>
<p> </p>
<p>Pada suatu saat ada seorang anak kecil jatuh dari sampan dan tenggelam di sungai yang sangat pekat warnanya karena banyak tumbuhan air. Setelah ditemukan, anak tersebut sudah tidak bernyawa dan perutnya kembung penuh dengan air. Semua orang menangis meraung-raung tanpa pengharapan. Saat itulah Jim berdoa, memohon belas kasihan Allah agar nyawa anak itu dikembalikan lagi. Mujizat terjadi, anak itu hidup lagi !</p>
<p> </p>
<p>Akibatnya seluruh kampung percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mereka mau dibaptis. Perjuangan Jim tidaklah sia-sia. Ia baru berumur 24 tahun bersama istri tercintanya ketika mereka masuk ke pedalaman hutan belantara Irian demi keselamatan &#8220;saudara-saudaranya&#8221;, suku Sawi, di Irian bagian selatan. Apa yang ia tabur, kini sudah berbuah. Oleh pertolongan Tuhan saat ini berdiri tujuh sidang jemaat suku Sawi.</p>
<p> </p>
<p>Jim Yost mengungkapkan bahwa setelah enam bulan ia baru bisa berkomunikasi dengan bahasa Sawi dan setelah satu tahun ia lebih lancar lagi, sehingga ia dapat menjelaskan hal-hal rohani. Setiap hari ia bersama laki-laki Sawi pergi berburu ke hutan dan istrinya juga masuk ke hutan bersama para wanita Sawi untuk mencari sagu. Dengan cara itu ia menjadi cepat menangkap bahasa Sawi sampai ia dapat menyelesaikan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Sawi.</p>
<p> </p>
<p>Anak pertamanya, Amy (16) lahir di Amerika ketika ia sedang cuti di sana. Sementara itu Jennifer (13) dan Megan (9) lahir di Irian Jaya. Ketiganya sangat menyatu dengan budaya Sawi sekalipun mereka adalah orang Amerika. Dalam hal pendidikan anak-anaknya, istri Jim mengajar mereka di rumah dengan memakai buku-buku yang dibawa dari Amerika sampai sekarang. &#8220;Kami tidak mau berpisah dengan anak-anak. Karena itu mereka tidak kami kirim ke luar untuk belajar, sehingga mereka melihat apa yang ada pada kami. Mereka melihat diri saya sebagai misionaris, bukan hanya orang tua. Contohnya, anak kami yang pertama, Amy, setiap hari membantu ibunya di poliklinik.</p>
<p> </p>
<p>Ia dapat menyuntik orang-orang sakit, dapat menjahit luka, dapat menolong ibu-ibu yang melahirkan dan lain-lain. Saya yakin dia nanti bisa jadi dokter. Setelah pendidikan selesai nanti Amy dapat kembali ke Irian Jaya.&#8221; kata Jim. &#8221;Kami tidak kuatir dengan pendidikan mereka sebab yang kami ajarkan sama dengan di sekolah-sekolah Amerika. Tentang pergaulan, memang mereka tidak bergaul dengan anak-anak Amerika sebayanya dan mereka mungkin sedikit rugi, tetapi mereka lebih kaya karena pergaulan dengan anak-anak pedalaman. Mereka tidak punya budaya sendiri, walaupun orang tua mereka berbudaya Amerika. Mereka memiliki supra budaya sehingga gampang menyesuaikan diri,&#8221; tambah Jim.</p>
<p> </p>
<p>Sebab itu, menurut Jim, misionaris yang paling efektif adalah anak-anak dari para misionaris karena mereka lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sampai hari ini Jim Yost sudah 20 tahun tinggal di antara saudara-saudaranya, suku Sawi, bersama keluarganya. Mereka berkata bahwa Irian adalah tanah airnya dan menyatu dalam hidup dan budaya Sawi. Dalam pelayanannya, Jim berusaha menerapkan pelayanan terpadu, pelayanan secara utuh yang meliputi roh, jiwa dan tubuh. Ia tidak hanya mengajarkan hal-hal rohani, tetapi ia juga membuka sekolah untuk memberantas buta huruf, mengajarkan kursus peternakan, pelayanan kesehatan, proyek air bersih dll. Jim yakin apabila mereka menerima keselamatan maka hal itu akan mengubah semua kehidupan mereka.</p>
<p> </p>
<p>Suku-suku terasing di pedalaman Irian seperti suku Sawi yang ditinggalkan dunia moderen, tetapi diperhatikan Allah. Ia telah mengirimkan hambaNya untuk menyelamatkan mereka. Ia yang telah menciptakan suku-suku bangsa, Ia pula yang akan menyelamatkan mereka dengan caraNya sendiri. Terpujilah Allah !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=100</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ludwig Nommensen, Rasul Tanah Batak&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=86</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=86#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 01:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritapengharapan.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[
Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin melarat dan selalu sakit-sakitan.
Ingwer Ludwig Nommensen, Rasul Tanah Batak
Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritapengharapan.com"><img class=" alignleft" style="padding: 0px; margin: 0px; border: 0px none initial;" src="http://simanjuntak.or.id/wp-content/uploads/2008/05/051208-1756-ingwerludwi11.jpg" alt="Nommensen" width="197" height="246" /></a></p>
<p>Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin melarat dan selalu sakit-sakitan.</p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ingwer Ludwig Nommensen, Rasul Tanah Batak</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin melarat dan selalu sakit-sakitan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pada umur 8 tahun ia mencari nafkah dengan menggembalakan domba milik orang lain pada musim panas dan pada musim dingin ia bersekolah. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga pekerjaan itu tidak asing lagi baginya. Semuanya ini nampaknya merupakan persiapan bagi pekerjaannya sebagai pekabar Injil di kemudian hari.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tahun 1846 Nommensen mengalami kecelakaan yang serius. Pada waktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta berkuda. Kereta kuda itu menggilas kakinya sehingga patah. Terpaksa ia berbaring saja di tempat tidur berbulan-bulan lamanya. Teman-temannya biasanya datang menceritakan pelajaran dan cerita- cerita yang disampaikan guru di sekolah. Cerita-cerita itu adalah tentang pengalaman pendeta-pendeta yang pergi memberitakan Injil kepada banyak orang dan Nommensen sangat tertarik mendengar cerita- cerita itu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lukanya makin menjadi parah sehingga dia tidak dapat berjalan sama sekali. Sekalipun sakit, Nommensen belajar merajut kaos, menjahit dan menambal sendiri pakaiannya yang robek. Pada suatu hari ia membaca Yohanes 16:23-26, yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa siapa yang meminta kepada Bapa di surga maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya, apakah perkataan Yesus itu masih berlaku atau tidak. Ibunya meyakinkannya bahwa perkataan itu masih berlaku. Ia meminta ibunya untuk berdoa bersama- sama. Nommensen meminta kesembuhan dan dengan janji, jikalau ia sembuh maka ia akan pergi memberitakan Injil. Dan memang doanya dikabulkan karena beberapa minggu kemudian kakinya sembuh. Setelah sembuh kembalilah Nommensen menggembalakan domba lagi. Janjinya selalu menggodanya untuk segera memenuhinya. Oleh karena itu ia melamar untuk menjadi penginjil pada Lembaga Pekabaran Injil Rhein (RMG). Beberapa tahun lamanya ia belajar sebagai calon pekabar Injl.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tahun 1861 ia ditahbiskan menjadi pendeta. Dan sesudahnya ia berangkat menuju Sumatera dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai pekerjaannya di Barus. Ia mulai belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu yang cepat sekali dapat dikuasainya. Sekarang ia mulai mengadakan kontak-kontak dengan orang-orang Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu mengadakan perjalanan keliling untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Ia mempelajari adat- istiadat Batak dan mempergunakannya dalam mempererat pergaulan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Nommensen meminta ijin untuk masuk ke pedalaman namun dilarang oleh pemerintah, karena sangat berbahaya bagi seorang asing. Namun Nommensen tidak takut. Ia memilih Silindung sebagai tempat tinggalnya yang baru. Ia mendapat gangguan yang hebat di sini, namun ia tidak putus asa. Ia berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (Kampung Damai). Tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah dan rumahnya sendiri di Pearaja. Sampai sekarang Pearaja menjadi pusat HKBP.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pekerjaan Nommensen diberkati Tuhan sehingga Injil makin meluas. Sekali lagi ia memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, pada tahun 1891 dan ia tinggal di sini sampai dengan meninggalnya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Nommensen memberitakan Injil di tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan PB ke dalam bahasa Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, menebus hamba-hamba dari tuan- tuannya, dan membuka sekolah-sekolah serta balai-balai pengobatan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dalam pekerjaan pekabaran Injil ia menyadari perlunya mengikut- sertakan orang-orang Batak sehingga dibukalah sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Juga untuk kebutuhan guru-guru sekolah, dibukanya pendidikan guru.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan maka pimpinan RMG mengangkatnya menjadi Ephorus pada tahun 1881.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Universitas Bonn memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Nommensen.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Nommensen meninggal pada umur yang sangat tua, pada umur 84 tahun. Ia meninggal pada 12 Mei 1918. Nommensen dikuburkan di Sigumpar di tengah-tengah suku bangsa Batak setelah bekerja dalam kalangan suku bangsa ini selama 57 tahun lamanNommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin melarat dan selalu sakit-sakitan</div>
<p>Pada umur 8 tahun ia mencari nafkah dengan menggembalakan domba milik orang lain pada musim panas dan pada musim dingin ia bersekolah. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga pekerjaan itu tidak asing lagi baginya. Semuanya ini nampaknya merupakan persiapan bagi pekerjaannya sebagai pekabar Injil di kemudian hari.</p>
<p> </p>
<p>Tahun 1846 Nommensen mengalami kecelakaan yang serius. Pada waktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta berkuda. Kereta kuda itu menggilas kakinya sehingga patah. Terpaksa ia berbaring saja di tempat tidur berbulan-bulan lamanya. Teman-temannya biasanya datang menceritakan pelajaran dan cerita- cerita yang disampaikan guru di sekolah. Cerita-cerita itu adalah tentang pengalaman pendeta-pendeta yang pergi memberitakan Injil kepada banyak orang dan Nommensen sangat tertarik mendengar cerita- cerita itu.</p>
<p> </p>
<p>Lukanya makin menjadi parah sehingga dia tidak dapat berjalan sama sekali. Sekalipun sakit, Nommensen belajar merajut kaos, menjahit dan menambal sendiri pakaiannya yang robek. Pada suatu hari ia membaca Yohanes 16:23-26, yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa siapa yang meminta kepada Bapa di surga maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya, apakah perkataan Yesus itu masih berlaku atau tidak. Ibunya meyakinkannya bahwa perkataan itu masih berlaku. Ia meminta ibunya untuk berdoa bersama- sama. Nommensen meminta kesembuhan dan dengan janji, jikalau ia sembuh maka ia akan pergi memberitakan Injil. Dan memang doanya dikabulkan karena beberapa minggu kemudian kakinya sembuh. Setelah sembuh kembalilah Nommensen menggembalakan domba lagi. Janjinya selalu menggodanya untuk segera memenuhinya. Oleh karena itu ia melamar untuk menjadi penginjil pada Lembaga Pekabaran Injil Rhein (RMG). Beberapa tahun lamanya ia belajar sebagai calon pekabar Injl.</p>
<p> </p>
<p>Tahun 1861 ia ditahbiskan menjadi pendeta. Dan sesudahnya ia berangkat menuju Sumatera dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai pekerjaannya di Barus. Ia mulai belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu yang cepat sekali dapat dikuasainya. Sekarang ia mulai mengadakan kontak-kontak dengan orang-orang Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu mengadakan perjalanan keliling untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Ia mempelajari adat- istiadat Batak dan mempergunakannya dalam mempererat pergaulan.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Nommensen meminta ijin untuk masuk ke pedalaman namun dilarang oleh pemerintah, karena sangat berbahaya bagi seorang asing. Namun Nommensen tidak takut. Ia memilih Silindung sebagai tempat tinggalnya yang baru. Saat Ingwer Ludwig Nommensen pertama kali mengunjungi Lembah Silindung, Dia berdoa di Bukit Siatas Barita, di sekitar Salib Kasih yang sekarang. Ia berdoa, “Tuhan, hidup atau mati saya akan bersama bangsa ini untuk memberitakan FirmanMu dan KerajaanMu, Amin!”.</p>
<p> </p>
<p>Ia mendapat gangguan yang hebat di sini, namun ia tidak putus asa. Ia berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (Kampung Damai). Tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah dan rumahnya sendiri di Pearaja. Sampai sekarang Pearaja menjadi pusat HKBP.</p>
<p> </p>
<p>Tahun 1864, tanggal 30 Juli, Ingwer Ludwig Nommensen menjumpai Raja Panggalamei ke Pintubosi, Lobupining. Raja Panggalamei beserta rombongannya 80 orang yang telah membunuh Pendeta Hendry Lyman dan Samuel Munson (missionar yang diutus oleh Zending Gereja Baptis dari Amerika) di sisangkak, Lobupining pada tahun 1834, bertepatan dengan tahun lahirnya Ingwer Ludwig Nommensen di Eropa. Dan pada tanggal 25 September tahun itu, Ingwer Ludwig Nommensen mau dipersembahkan ke Sombaon Siatas Barita dionan Sitahuru. Ribuan orang datang. Ingwer Ludwig Nommensen akan dibunuh menjadi kurban persembahan. Ingwer Ludwig Nommensen tegar menghadapi tantangan, dia berdoa, angin puting beliung dan hujan deras membubarkan pesta besar tersebut. Ingwer Ludwig Nommensen selamat, sejak itu terbuka jalan akan Firman Tuhan di negeri yang sangat kejam dan buas. Ingwer Ludwig Nommensen pantas dijuluki “Rasul di Tanah Batak”</p>
<p> </p>
<p>Pekerjaan Nommensen diberkati Tuhan sehingga Injil makin meluas. Sekali lagi ia memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, pada tahun 1891 dan ia tinggal di sini sampai dengan meninggalnya.</p>
<p> </p>
<p>Nommensen memberitakan Injil di tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan PB ke dalam bahasa Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, menebus hamba-hamba dari tuan- tuannya, dan membuka sekolah-sekolah serta balai-balai pengobatan.</p>
<p> </p>
<p>Dalam pekerjaan pekabaran Injil ia menyadari perlunya mengikut- sertakan orang-orang Batak sehingga dibukalah sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Juga untuk kebutuhan guru-guru sekolah, dibukanya pendidikan guru.</p>
<p> </p>
<p>Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan maka pimpinan RMG mengangkatnya menjadi Ephorus pada tahun 1881. Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Universitas Bonn memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Nommensen.</p>
<p> </p>
<p>Nommensen meninggal pada umur yang sangat tua, pada umur 84 tahun. Tahun 1918, Tanggal 23 Mei, Pukul enam pagi Hari Kamis, Ingwer Ludwig Nommensen pergi menghadap Tuhannya di Sorga. Dia menutup mata untuk selama-lamanya setelah berdoa ‘Tuhan kedalam tanganMu kuserahkan rohku, Amin’.</p>
<p> </p>
<p>Pada Jumat sore, 24 Mei 1918, Ingwer Ludwig Nommensen dikubur di Sigumpar di tengah-tengah suku bangsa Batak setelah bekerja dalam kalangan suku bangsa ini selama 57 tahun lamanya. Puluhan ribu datang melayatnya untuk mengucapkan salam perpisahan. Ada orang berkata : Inilah kumpulan manusia yang paling banyak yang pernah terjadi di Tanah Batak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=86</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hudson Taylor, Hati untuk Cina&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=79</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=79#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 15:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wilayah Cina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritapengharapan.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Hudson Taylor dilahirkan di Yorkshire, Inggris tahun 1832. Ayahnya adalah seorang ahli farmasi selain pengkotbah awam Metodis dan ia menanamkan dalam pikiran dan hati anak lelakinya suatu kegairahan akan misi. Sebelum ia mencapai ulang tahunnya yang kelima Hudson Taylor kecil sudah mengatakan kepada para pengunjung bahwa ia suatu hari ingin menjadi misionaris, dan Cina adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yourchristian-life.blogspot.com/"><img class="alignleft" src="http://unashamedworkman.files.wordpress.com/2007/10/taylorr.jpg" alt="" width="215" height="300" /></a>Hudson Taylor dilahirkan di Yorkshire, Inggris tahun 1832. Ayahnya adalah seorang ahli farmasi selain pengkotbah awam Metodis dan ia menanamkan dalam pikiran dan hati anak lelakinya suatu kegairahan akan misi. Sebelum ia mencapai ulang tahunnya yang kelima Hudson Taylor kecil sudah mengatakan kepada para pengunjung bahwa ia suatu hari ingin menjadi misionaris, dan Cina adalah wilayah yang menarik minatnya.</p>
<p> </p>
<p>Namun Taylor tidak bertobat sampai ia berusia 17 tahun. Saat itu adalah musim panas tahun 1849 ketika ibunya sedang pergi untuk kunjungan yang lama ke seorang teman. Taylor muda sedang di rumah dan membaca-baca kertas-kertas di perpustakaan ayahnya ketika ia menemukan traktat-traktat religius. Ia lebih tertarik pada cerita-ceritanya dari pada aplikasi rohaninya, dan ia mengambil satu dan membacanya di luar. Saat ia membaca ia ditundukkan Tuhan dan pada akhirnya memohon pengampunanNya. Ketika ibunya kembali dua minggu kemudian dan ia diberitahu kabar itu, ia tidak terkejut. Ia mengisahkan kepadanya bagaimana dua minggu sebelumnya sementara di rumah temannya, ia tiba-tiba merasakan desakan untuk berdoa bagi keselamatannya, jadi ia pergi ke ruangannya dan berdoa sampai merasa pasti kalau doanya telah dijawab Allah.</p>
<p> </p>
<p>Taylor tahu ia harus mulai menyiapkan dirinya jika ia mau menjadi seorang misionaris ke Cina. Keluarganya tergolong kelas menengah dan ia tinggal bersama orang tua dan kedua adiknya di rumah yang cantik di kawasan perumahan yang bagus. Sebagai latihan sebelum ia mulai bekerja di ladang Tuhan, ia pindah ke daerah kumuh dan tinggal di antara orang-orang miskin. Ia mendapatkan pekerjaan di suatu klinik praktek yaitu sebagai seorang asisten dokter. Tujuan Taylor memisahkan diri dari kenyamanan hidup yang dijalani sebelumnya adalah agar ia dapat membiasakan diri dengan kesendirian dan bahaya yang muncul dari hidup di suatu tempat asing di mana hanya Tuhan yang akan menemaninya. Ia memilih pekerjaan sebagai asisten  dokter karena ia tahu pengetahuan medis akan sangat membantunya di Cina nanti. Usianya baru 19 tahun pada waktu itu.</p>
<p> </p>
<p>Di &#8217;sekolah Tuhan&#8217; di daerah kumuh itu, Taylor belajar bahwa ia dapat percaya dan taat sepenuhnya kepada Tuhan dalam setiap sisi kehidupannya. Memang masih terlalu banyak yang harus dipelajarinya, tetapi pelajaran awal yang didapatnya adalah bahwa janji dan ucapan Tuhan dapat diandalkan. Pengalamannya di waktu itu mengajarkan kepadanya bahwa tidak ada yang lebih mendatangkan sukacita dibandingkan dengan doa dan jawaban terhadap doa. Ia telah belajar bagaimana untuk menggerakkan orang lewat doa. Ia tidak pernah meminta dari manusia untuk hal-hal materil. Semua kebutuhannya ia bentangkan di hadapan Tuhan.</p>
<p> </p>
<p>Waktu Taylor mulai bekerja sebagai asisten dokter, dokter yang dengannya ia bekerja pernah berkata, &#8220;Taylor, ingatkan saya ya, kapan saya harus membayar upahmu. Karena sering terlalu sibuk dengan pekerjaan, saya pasti akan lupa.&#8221; Dan dokter itu benar-benar lupa. Tetapi Taylor tahu bahwa di Cina nanti, ia tidak akan dapat meminta pada siapa pun, melainkan hanya kepada Tuhan. Jadi ia memutuskan untuk hanya meminta kepada Tuhan dan menyerahkan hal mengingatkan sang dokter ini pun kepada Tuhan.</p>
<p> </p>
<p>Tiga minggu setelah itu sang dokter tiba-tiba teringat ia belum membayar gaji mingguan Taylor, tetapi pada malam itu ia kebetulan tidak punya uang karena semuanya sudah disetorkan ke bank. Taylor waktu itu telah sama sekali tidak memiliki uang dan ia harus membayar uang sewa kamarnya. Dan ia juga tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Sepanjang hari itu sebetulnya ia sudah berdoa sambil bekerja agar sang dokter itu akan ingat. Sesuai doanya, sang dokter itu memang ingat tetapi ingat pada saat ia kehabisan uang! Pada malam itu Taylor bekerja sampai jam 10 malam, walaupun letih tetapi ia merasa lega karena setidaknya ia tidak perlu pulang lebih awal dan menghadapi tuan rumahnya yang pasti akan menagih uang sewa kepadanya. Waktu ia sedang berkemas untuk pulang, sang dokter tiba-tiba masuk ke ruangannya dan berkata, &#8220;Aneh sekali, pasien saya baru saja datang dan membayar tagihannya! Ia salah satu pasien saya yang paling kaya dan ia bisa saja membayar lewat cek kapan-kapan saja tetapi ia datang membayar dengan uang kontan jam 10 di malam minggu!&#8221; Lalu ia menambahkan, &#8220;Oh ya, Taylor, sebaiknya kamu ambil saja uang ini. Saya tidak punya uang receh, tapi gajimu yang selebihnya akan saya bayar minggu depan&#8230; Selamat malam!&#8221;</p>
<p> </p>
<p>Doanya terjawab! Ia bukan saja punya uang untuk membayar sewa kamar tetapi juga uang makan untuk minggu yang akan datang. Ia telah membuktikan sekali lagi dalam kehidupan sehari-harinya bahwa Tuhan menjawab doa dan menggerakkan orang. Ia telah siap untuk pergi ke Cina!</p>
<p> </p>
<p>Segera setelah tiba di Cina, Taylor mendapati dirinya menghadapi kesulitan keuangan. Dukungan uang yang dijanjikan kepadanya tidak segera tiba dan uang yang dimilikinya hanya sedikit terutama menghadapi harga-harga yang terus membubung. Impian visi untuk menginjili Cina segera sirna dan ingatan akan masa kanak-kanaknya di Yorkshire membayangi dirinya. Usaha Taylor untuk menguasai bahasa Cina hanya menambah perasaan depresinya. Bulan-bulan pertamanya tinggal di Shanghai dipenuhi dengan jam belajar bahasa yang lama, dan ada saat ketika ia takut tidak pernah menguasai bahasa itu. Saat menulis kepada para direktur dari lembaga yang mengirim dia di Inggris ia memohon: “Berdoalah untuk saya, karena saya tertekan melampaui kekuatan, dan jika saja saya tidak mendapatkan bahwa Firman Allah itu makin berharga dan merasakan kehadiran-Nya bersama saya, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.”</p>
<p><a href="www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://cases.som.yale.edu/china/files/HudsonTaylor.jpg" alt="" width="432" height="300" /></a></p>
<p> </p>
<p>Dari Shanghai, Taylor masuk ke pedalaman. Di pedalaman, situasinya berbeda sama sekali. Pada perjalanan awalnya, Taylor mendapati bahwa ia merupakan pemandangan baru dan orang-orang jauh lebih tertarik pada pakaian dan perilakunya dari pada pesannya. Baginya hanya ada satu penyelesaian yang masuk akal: menjadi orang Cina, mengadopsi pakaian dan kultur Cina</p>
<p> </p>
<p>Ia mengubah tampilan rambutnya, menggunakan kacamata cina, dan kebiasaannya memakai pakaian dan budaya Cina menjadi tanda khas dirinya. Bukan hanya ia dapat bergerak lebih bebas, tetapi pakaiannya juga lebih cocok dengan iklim dari pada pakaian barat.</p>
<p> </p>
<p>Taylor kemudian menikah dengan Maria dan mendirikan Misi Pedalaman Cina (CIM – China Inland Mission).Taylor memiliki rencana. Jika ia dapat mengumpulkan 1000 orang penginjil dan jika setiap penginjil itu dapat menjangkau 250 orang per hari dengan Injil, seluruh Cina dapat diinjili tiga tahun lebih sedikit. Tentu saja itu adalah visi yang tidak realistis, dan tujuannya tidak pernah tercapai, tetapi CIM meninggalkan kesan yang tak ter-hapuskan di Cina. Pada tahun 1882, CIM telah memasuki tiap propinsi dan pada tahun 1895, tigapuluh tahun setelah pendiriannya, CIM memiliki lebih dari 640 misionaris yang mengorbankan kehidupan mereka di Cina.</p>
<p> </p>
<p>Pada bulan Juni 1900 kekaisaran Peking memerintahkan untuk membunuh semua orang asing dan melarang semua kegiatan yang berhubungan dengan agama Kristen. 135 orang misionaris dan 53 anak- anak para misionaris dibunuh secara brutal. Di Propinsi Shansi saja, 91 misionaris CIM dibantai</p>
<p> </p>
<p>Taylor kemudian diasingkan di Switzerland, memulihkan kembali kesehatannya dari kejadian yang membuatnya trauma meskipun ia tidak dapat benar-benar menghilangkan trauma yang dialaminya. Setahun kemudian Taylor kembali ke China dimana akhirnya ia meninggal dengan tenang sebulan setelah kedatangannya.</p>
<p> </p>
<p>Meskipun Taylor telah meninggal, namun CIM tetap berkembang. Puncak kejayaan CIM terjadi tahun 1914 dimana CIM menjadi organisasi misi yang terbesar di dunia dan pada tahun 1934 berhasil memiliki misionaris sebanyak 1368. Tahun 1964 CIM berganti nama menjadi &#8220;The Overseas Missionary Fellowship&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=79</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>John Sung, Obor Allah di Asia&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://ceritapengharapan.com/?p=29</link>
		<comments>http://ceritapengharapan.com/?p=29#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chrisdina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wilayah Asia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapengharapan.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Ia lahir dengan nama Sung Siong Geh pada tahun 1901 di sebuah desa miskin di propinsi Fukien di Tiongkok Tenggara. Ayahnya pendeta Gereja Metodis. Ibunya buruh tani. Mereka sekeluarga bertubuh lemah dan sering sakit.
Pada usia 18 tahun Sung berlayar ke Amerika karena mendapat beasiswa . Ia belajar kimia di Wesleyan University di Ohio. Untuk ongkos [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="www.Ceritapengharapan.com"><img class="alignleft" src="http://biokristi.sabda.org/files/gambar/images-69.jpg" alt="" width="70" height="98" /></a>Ia lahir dengan nama Sung Siong Geh pada tahun 1901 di sebuah desa miskin di propinsi Fukien di Tiongkok Tenggara. Ayahnya pendeta Gereja Metodis. Ibunya buruh tani. Mereka sekeluarga bertubuh lemah dan sering sakit.</p>
<p>Pada usia 18 tahun Sung berlayar ke Amerika karena mendapat beasiswa . Ia belajar kimia di Wesleyan University di Ohio. Untuk ongkos hidup ia bekerja sebagai pembersih sampah dan pembersih mesin pabrik. Ia lulus sebagai mahasiswa nomor satu.</p>
<p> </p>
<p>Sementara itu, studi Sung berjalan terus. Ia diterima di Ohio State University. Program Master of Science ditempuhnya hanya dalam sembilan bulan. Sesudah itu Sung mengambil program doktor. Ia lulus dengan gemilang dan menjadi doktor ilmu kimia hanya dalam tiga semester. Semua surat kabar Amerika dan Eropa mencatat rekor jenius ini. Banyak perusahaan raksasa menawarkan lowongan kepada Sung. </p>
<p>Sung menolak semua tawaran itu. Lalu ia masuk sekolah teologi Union Theological Seminary. Dr. Henry Sloane Coffin seorang yang sangat liberal baru saja menduduki jabatan sebagai rektor seminari itu. </p>
<p>Dr. Sung menenggelamkan diri dalam studi teologi liberalnya dengan segala kemampuan inteleknya. Pada tahun itu ia memperoleh nilai-nilai tertinggi, namun berpaling dari Kekristenan sama seperti ketika dulu ia mempelajari Budhisme dan Taoisme. Ia mulai menyanyikan kitab-kitab suci Budha dalam meditasi di kamarnya, dan berharap melalui penyangkalan diri akan membawanya memperoleh damai sejahtera. Ia menulis, ”Jiwaku mengembara di padang gurun.”</p>
<p> </p>
<p><span style="color: #551a8b; text-decoration: underline;"><br />
</span></p>
<p>Akhirnya, pada tanggal 10 Pebruari 1927 ia mengalami pertobatan sejati. Ia berlari sambil bersorak dan memuji Tuhan sambil berkeliling asrama itu. Ia mulai berbicara kepada setiap orang tentang kebutuhan mereka akan Kristus, termasuk kepada teman-teman sekelasnya dan para pengajar di Seminari itu. Rektor Seminari itu berpikir bahwa ia telah kehilangan kesadarannya karena usaha belajarnya yang terlalu dipaksakan, dan mengalami psikopat dan mereka memasukkannya ke rumah sakit jiwa.</p>
<p> </p>
<p>Selama 193 hari di rumah sakit itu ia menelaah 1.189 pasal Alkitab dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22 sebanyak 40 kali dengan 40 sudut eksegese yang berbeda. Ia keluar rumah sakit sambil membawa 40 naskah eksegese dalam bahasa Inggris dan mandarin.</p>
<p><a href="www.ceritapengharapan.com"><img class="aligncenter" src="http://gkashalom.files.wordpress.com/2009/08/sunght4.jpg" alt="" width="144" height="204" /></a></p>
<p>Selepas dari rumah sakit jiwa (1927), ia kembali ke Cina. Pada perjalanannya kembali ia tahu bahwa ia dapat dengan mudah memperoleh kedudukan sebagai professor kimia di beberapa Universitas di China. Ketika kapal yang ditumpanginya sudah mendekat ke tujuan perjalanannya, John Sung turun ke kabinnya, mengambil ijazah-ijazah dan medali-medali serta tanda keanggotaannya dalam organisasi-organisasi saintifik terkenal dan membuang semua itu ke laut. Semua ijazahnya tak tercuali ijazah doktornya, yang telah ia perjuangkan demi menyenangkan ayahnya.</p>
<p> </p>
<p>Mulai lah dia bekerja bagi pekerjaan Tuhan. Pertobatan-pertobatan terjadi, kesaksian-kesaksian terus mengalir. Tanah Cina kembali menjadi suatu ladang yang siap dituainya. Lahan-lahan yang dipersiapkan misionari-misionari sebelumnya memperlihatkan hasil.</p>
<p>Pada tahun 1939, ia beberapa kali datang ke Indonesia.  Orang datang berduyun-duyun sampai gedung gereja melimpah ruah. Itulah Dr. John Sung dari Tiongkok yang membuat ratusan ribu orang Indonesia pada tahun 1935-1939 menerima Injil Kristus. Kesehatan hamba Tuhan yang setia ini makin lama makin buruk. Waktu di Surabaya ia berkotbah sambil berlutut untuk meringankan sakitnya.</p>
<p> </p>
<p>Pada pukul 7.07 pada tanggal 18 Agustus, John Sung menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dipanggil Tuhan pada usia 42 tahun. Orang-orang Kristen di China dan Taiwan, bahkan Indonesia hari ini berhutang banyak kepada pelayanan Sung; ia adalah salah satu karunia terbesar Tuhan bagi Asia. Inilah John Sung, Obor Allah di Asia.</p>
<p> </p>
<p> <em>“Masih banyak orang yang lebih baik dari aku! </em></p>
<p><em>Untuk pembelajaran Alkitab, aku tidak sebanding dengan Watchman Nee! Sebagai pengkotbah, aku tidak sebanding dengan Wang Ming-tao! Sebagai penulis, aku tidak dapat dibandingkan dengan Marcus Cheng! Sebagai musisi, aku jauh di bawah Timothy Chao. Aku tidak memiliki kesabatan seperti Alfred Chow! Sebagai figure public, aku tidak memiliki sopan santun seperti Andrew Gih.</em></p>
<p><em>Hanya ada satu hal di mana aku melebihi mereka: yaitu dalam melayani Tuhan dalam setiap kekuatanku”</em></p>
<p>(John Sung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapengharapan.com/?feed=rss2&amp;p=29</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
